Presiden AS mengumumkan bahwa ia akan “menghentikan secara permanen migrasi dari semua negara dunia ketiga.” Pernyataannya muncul setelah penembakan terhadap dua anggota Garda Nasional oleh seorang pria asal Afganistan.
Pemerintahan Trump sedang meninjau status penduduk tetap imigran dari 19 negara.Foto: Jim Watson/AFP
Iklan
"Saya akan menghentikan secara permanen migrasi dari semua negara dunia ketiga untuk memungkinkan sistem Amerika Serikat pulih sepenuhnya,” tulis Trump dalam unggahan tengah malam di platform media sosialnya, Truth Social, menggunakan istilah yang sudah usang dan dianggap ofensif untuk menyebut negara-negara berkembang secara ekonomi.
Donald Trump juga menulis bahwa ia akan "mengusir siapa pun yang bukan merupakan aset bersih bagi Amerika Serikat” dan "mengakhiri semua tunjangan serta subsidi federal bagi nonwarga negara, mencabut kewarganegaraan para migran yang merusak ketenteraman domestik, serta mendeportasi warga negara asing yang menjadi beban publik, risiko keamanan, atau dinilai tidak sesuai dengan peradaban Barat.”
Trump menulis bahwa kebijakan itu juga akan mencakup program visa khusus bagi warga Afganistan yang bekerja dengan AS di Afganistan sebelum Taliban kembali berkuasa.
Kembali Berkuasa, Trump Bikin Kebijakan Baru yang Kontroversial
Setelah dilantik kembali pada 20 Januari 2025, Donald Trump memperkenalkan kebijakan kontroversial seperti tarif tinggi, pembekuan dana internasional, hingga perubahan kebijakan luar negeri yang memicu ketegangan global.
Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance
Deportasi migran ilegal
Dalam pidato pelantikannya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan niat mendeportasi 'jutaan dan jutaan' migran ilegal. Pada minggu pertama Trump menjabat, hampir 2.400 migran ditangkap ICE, terutama yang pernah terjerat kasus hukum. Kongres AS juga telah meloloskan Lakes Riley Act, yang memungkinkan penahanan migran tanpa status sah untuk kejahatan berat dan pelanggaran ringan.
Foto: Isaac Guzman/AFP
AS mundur dari Perjanjian Paris
Pada hari pertama menjabat, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk menarik AS dari Perjanjian Paris, yang kedua kalinya ia lakukan. Tindakan ini menuai kontroversi. "Emisi AS berperan besar dalam menentukan apakah kita bisa tetap di bawah batas 2 derajat dan 1,5 derajat," kata Laura Schäfer dari LSM lingkungan dan HAM, Germanwatch.
Foto: JIM WATSON/AFP
Hengkang dari WHO
Trump menarik Amerika Serikat keluar dari WHO. Para ahli memperingatkan langkah ini akan menghambat penanganan wabah penyakit dan masalah kesehatan global. Namun, resolusi kongres mengharuskan pemberitahuan satu tahun dan pelunasan kewajiban sehingga perintah ini baru berlaku penuh Januari 2026. Trump juga menghentikan transfer dana AS ke WHO, yang berdampak pada pendanaan organisasi tersebut.
Foto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance
Ganti nama Teluk Amerika
Presiden Trump menandatangani dekret untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika dan mengembalikan nama Gunung Denali di Alaska menjadi McKinley. Dalam posting di X pada 27 Januari 2025, Google menyatakan akan mengikuti praktik lama untuk menerapkan perubahan nama lokasi sesuai pembaruan resmi pemerintah yang merujuk pada Geographic Names Information System (GNIS).
Foto: Roberto Schmidt/AFP/Getty Images
Rencana setop hibah dan pinjaman federal
Pada Senin (27/01), Trump menginstruksikan badan-badan federal untuk menghentikan sementara pencairan hibah dan pinjaman federal di seluruh AS. Kebijakan ini dianggap mengancam program vital seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan bantuan bencana. Namun, seorang hakim federal memblokir sementara rencana tersebut beberapa menit sebelum kebijakan dijadwalkan berlaku pada Selasa (28/01) malam.
Foto: Jim Watson/AFP/Getty Images
Larang atlet transgender di olahraga perempuan
Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang atlet transgender berkompetisi dalam olahraga perempuan dan anak perempuan, Rabu (05/02). Langkah ini merupakan bagian dari serangkaian tindakan untuk membatasi hak LGBTQ+. Perintah ini juga menyatakan bahwa negara hanya akan mengakui dua jenis kelamin, pria dan perempuan. Sekolah yang melanggar aturan ini berisiko kehilangan dana federal.
Foto: Andres Caballero-Reynolds/AFP
Pembekuan dana USAID ke 130 negara
Keputusan Presiden Trump untuk menangguhkan dana bantuan USAID telah menghentikan proyek-proyek di sekitar 130 negara, termasuk Indonesia, berdampak dramatis pada jutaan orang dan pekerja bantuan. Trump menuduh USAID melakukan pemborosan, dengan menulis di Truth Social, "Sepertinya miliaran dolar telah dicuri di USAID.” Namun, ia tidak memberikan bukti apa pun.
Foto: Sofia Toscano/colprensa/dpa/picture alliance
Satgas DOGE untuk efisiensi
Satuan Tugas Department of Government Efficiency (DOGE) dibentuk Presiden AS Donald Trump untuk merombak sistem birokrasi federal. DOGE, yang dipimpin oleh Elon Musk, bertujuan mengurangi peraturan, pengeluaran, dan staf pemerintah. Banyak pihak mengkritik minimnya transparansi dalam perekrutan tim DOGE dan mempertanyakan jika tim tersebut telah melalui pemeriksaan terkait kesesuaian dan keamanan.
Foto: Andrew Harnik/Getty Images via AFP
Keinginan AS ambil alih Gaza
Presiden Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza. Usulan ini disampaikan saat kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke AS, Selasa (04/02). "AS akan mengambil alih Jalur Gaza dan kami juga akan melakukan sebuah pekerjaan. Kami akan memilikinya. Dan bertanggung jawab untuk membongkar semua bom berbahaya yang belum meledak dan senjata lainnya di tempat tersebut," kata Trump.
Foto: Khalil Ramzi/REUTERS
Kenaikan tarif impor baja dan alumunium
Trump mengumumkan tarif 25% untuk impor baja dan aluminium, berlaku Maret 2025. Kebijakan ini bertujuan "membuat Amerika kaya kembali," kata dia. Namun, banyak ekonom menolak asumsi ini, dan menyatakan justru merugikan semua pihak. Tarif dimaksudkan melindungi produsen dalam negeri, tetapi industri AS masih bergantung pada impor logam, yang dapat meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.
Foto: IMAGO/Newscom / AdMedia
10 foto1 | 10
Peninjauan ulang penuh diperintahkan setelah serangan di Washington
Unggahan tersebut, yang ditulis pada hari libur Thanksgiving di AS, muncul setelah pemerintahan Trump memerintahkan peninjauan penuh terhadap status penduduk tetap imigran dari 19 negara, menyusul serangan terhadap dua personel Garda Nasional AS di Washington, DC.
Iklan
Seorang warga Afganistan yang masuk ke AS pada tahun 2021 setelah bekerja dengan militer dan dinas intelijen Amerika di Afganistan telah ditangkap terkait penembakan pada hari Rabu (19/11) dekat Gedung Putih.
Direktur Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS (USCIS), Joseph Edlow, mengatakan di X: "Saya telah memerintahkan pemeriksaan ulang secara penuh dan ketat terhadap setiap pemegang Green Card untuk setiap warga asing dari setiap negara yang dianggap menjadi perhatian.”
Pemerintahan Trump pada hari Rabu (19/11) sudah menghentikan pemrosesan aplikasi imigrasi dari Afghanistan setelah penembakan tersebut.
Afghanistan, Iran, Somalia, Libya, Yaman, Kuba, Venezuela termasuk dalam daftar negara
Ke-19 negara yang kini ditinjau telah disebutkan dalam sebuah proklamasi pada bulan Juni, yang sebelumnya telah memberlakukan pembatasan masuk bagi warga negara dari negara-negara yang dianggap lemah dalam prosedur pemeriksaan dan penyaringan keamanan.
Di antara negara-negara tersebut adalah Afghanistan, Iran, Somalia, Libya, dan Yaman, serta Kuba, Venezuela, Chad, dan Eritrea.
Para kritikus memperingatkan bahwa kebijakan itu berisiko menghukum ratusan ribu penduduk tetap yang sah hanya berdasarkan kebangsaannya.
Apakah peninjauan tersebut akan mengarah pada pencabutan status atau deportasi masih belum jelas. Dampak pernyataan Trump pada hari Kamis (20/11) terhadap peninjauan USCIS juga tidak jelas.
Untuk saat ini, pemerintah menyebut langkah itu sebagai tindakan perlindungan yang ditujukan untuk keamanan nasional menyusul serangan di Washington DC.
Kehidupan Baru Pengungsi Afganistan di Kentucky, AS
Setelah pengungsian yang melelahkan dari Kabul ke Qatar dan ke pangkalan militer AS, keluarga Afganistan ini akhirnya tiba di kota kecil Bowling Green, negara bagian Kentucky, yang bersedia menerima pengungsi.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Dari Kabul ke Kentucky
Keluarga Zadran dengan enam anak melarikan diri dari Kabul, sekarang tinggal di kota kecil Bowling Green, setelah menunggu cukup lama di pangkalan militer New Mexico. Dengan bantuan badan pemukiman kembali lokal, mereka sekarang tinggal di sebuah rumah dan anak-anaknya bisa bersekolah.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Kepala suku yang jadi pengungsi
Wazir Khan Zadran, 41 tahun, adalah seorang pemimpin suku yang berperang melawan jaringan Haqqani, yang termasuk dalam jaringan Taliban. Dia mengatakan, Amerika menyelamatkan dia dan keluarganya, termasuk anaknya Zuleikha Zadran, dengan menjemput mereka dengan helikopter Chinook pada Agustus 2021 dan membawa mereka ke bandara Kabul.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Kota kecil yang menyambut pengungsi
Keluarga Zadran disambut di Bowling Green, Kentucky, yang sudah sering menerima gelombang pengungsi sejak 40 tahun lalu. Pengungsi Kamboja datang pada 1980-an, pengungsi dari Bosnia tiba pada 1990-an. Selain itu, ada juga pengungsi dari Irak, Myanmar, Rwanda, dan Kongo. Kota berpenduduk 72.000 jiwa ini berkembang secara ekonomi dengan populasinya yang beragam.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Bantuan dari masyarakat setempat
"Kami sangat senang di Bowling Green," kata Zadran, yang mendapat rumah bantuan badan pemukiman kembali lokal, International Center of Kentucky, didirikan pada 1981. "Masyarakat setempat membantu kami dan memperkenalkan budaya baru kepada kami." Keenam anaknya senang belajar lagu dalam bahasa Inggris dan meminjam buku dari perpustakaan.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Anak-anak cepat beradaptasi
Tiga dari enam anak keluarga Zadran: Sanaullah Khan, 6, (berpakaian seperti Superman), Zahra, 4 (kiri), dan Samiullah Khan, 13 (kanan). Dari hampir 75.000 pengungsi Afganistan yang diperkirakan akan menetap di Bowling Green mengharapkan untuk menerima 350 orang pada tahun 2022.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Hidup aman tanpa perang
Keluarga Zadran sekarang hidup dengan aman dan beruntung tinggal di rumah dengan halaman di kota yang ramah. Ada banyak pekerjaan untuk penghuni baru Bowling Green. Di sini ada pusat pertanian dan manufaktur terkenal yang melayani perakitan mobil-mobil mewah.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Bebas menjalankan agamanya
Di Bowling Green, keluarga Zadran bisa menjalankan agamanya dalam suasana bebas dan bisa menjadi penduduk Amerika tanpa harus menghilangkan identitas budayanya.
Foto: Amira Karaoud/Reuters
Belajar budaya baru
Di rumah Zadran, anak-anak membuat kemajuan pesat dengan bahasa yang baru. Yang tertua, Zuleikha, mengajari saudara-saudaranya sebuah lagu dalam bahasa Inggris dengan lirik "Apa yang kamu syukuri?" Saat mereka memuji penampilan mereka sendiri, Zuleikha menyatakan "Cukup!" dan tersenyum lebar. (hp/ha)
Foto: Amira Karaoud/Reuters
8 foto1 | 8
Pengetatan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump
Masa jabatan kedua Trump ditandai dengan dorongan kuat untuk menindak imigrasi Ribuan orang telah ditangkap oleh agen imigrasi federal dalam operasi yang menargetkan para imigran tanpa dokumen yang sah, dengan mereka yang dianggap "alien ilegal” kemudian dideportasi.
Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) telah dikritik karena taktik yang dianggap keras, dengan agen-agen bersenjata lengkap dan mengenakan balaclava menyerbu orang-orang yang mereka tahan.