1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikVenezuela

Trump Klaim soal Minyak, Venezuela Tegaskan Kedaulatannya

7 Januari 2026

Presiden AS mengumumkan rencana memperoleh dan menjual 30-50 juta barel minyak Venezuela. Pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan negaranya dikendalikan pemerintah sendiri, bukan “agen asing”.

Venezuela Caracas 2026 | Burung ara di atas anjungan pengeboran minyak dekoratif di ibu kota
Trump sejak lama menginginkan cadangan minyak Venezuela yang sangat besarFoto: Matias Delacroix/AP Photo/picture alliance

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak yang dikenai sanksi kepada AS.

"Otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi kepada Amerika Serikat,” kata Trump.

"Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan penggunaannya demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump melalui unggahan di media sosial.

Trump tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana rencana tersebut akan dijalankan. Trump menyebut AS berencana mengambil alih industri minyak Venezuela dan melibatkan perusahaan minyak AS untuk menghidupkannya kembali. Namun, para ahli menilai upaya tersebut membutuhkan investasi besar untuk memulihkan infrastruktur energi Venezuela yang terpuruk.

Venezuela resmi tetapkan pekan berkabung nasional

Pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengumumkan pekan berkabung nasional untuk mengenang para prajurit militer yang tewas dalam serangan Amerika Serikat saat operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya.

Suasana duka masyarakat Venezuela saat pemakaman di Caracas, 2026Foto: Gaby Oraa/REUTERS

"Saya memutuskan menetapkan tujuh hari masa berkabung untuk menghormati dan memuliakan para pemuda, perempuan, dan laki-laki yang telah mengorbankan nyawa mereka demi membela Venezuela dan Presiden Nicolás Maduro,” kata Rodríguez dalam pidato yang disiarkan televisi nasional.

Militer Venezuela menyatakan sedikitnya 24 perwira tewas dalam serangan tersebut. Sementara itu, pemerintah Kuba mengatakan 32 tentara Kuba juga menjadi korban dalam operasi yang sama.

Rodríguez: Venezuela tidak dikendalikan kekuatan asing

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menegaskan bahwa tidak ada kekuatan asing yang mengendalikan negaranya. Pernyataan itu disampaikan Rodríguez dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa (07/01).

"Pemerintah Venezuela yang menjalankan negara ini, dan tidak ada pihak lain. Tidak ada agen asing yang mengendalikan Venezuela,” kata Rodríguez. Ia menambahkan, "Secara pribadi, kepada mereka yang mengancam saya, nasib saya tidak ditentukan oleh mereka, melainkan oleh Tuhan.”

Delcy Rodriguez menegaskan bahwa Venezuela tak diatur oleh pihak lainFoto: Marcelo Garcia/Miraflores Palace/REUTERS

Pernyataan itu muncul setelah Trump mengatakan kepada NBC News pada Minggu (04/01) bahwa Amerika Serikat kini "mengendalikan” Venezuela, menyusul operasi militer AS yang menculik pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya dalam sebuah penggerebekan pada Sabtu (03/01).

Trump juga memperingatkan Rodríguez bahwa nasibnya bisa "lebih buruk” dari Maduro jika tidak bekerja sama. Dalam konferensi pers setelah penangkapan Maduro, Trump menyatakan AS akan "menjalankan” pemerintahan Venezuela dengan dukungan pejabat tinggi AS.

Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kemudian melunakkan pernyataan tersebut. Rubio mengatakan Amerika Serikat tidak akan terlibat dalam pemerintahan Venezuela sehari-hari, melainkan menekan pemerintah baru negara itu melalui pengendalian ekspor minyak.

Penerbangan Deportasi Pertama AS Tiba di Venezuela

01:09

This browser does not support the video element.

PBB: Serangan AS ke Venezuela rusak prinsip dasar hukum internasional

Melansir Reuters, kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyatakan intervensi Amerika Serikat di Venezuela merupakan pelanggaran hukum internasional dan membuat dunia menjadi semakin tidak aman. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (06/01), menyusul operasi militer AS yang menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, yang kini menghadapi 4 dakwaan pidana di AS, termasuk soal tuduhan narkoterorisme.

"Itu jelas merupakan operasi yang merusak prinsip mendasar hukum internasional, yakni bahwa negara tidak boleh mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara lain,” ujar Kantor HAM PBB.

"Komunitas internasional perlu bersatu dan menyampaikan sikap dengan satu suara untuk menegaskan prinsip tersebut,” kata juru bicara utama Kantor HAM PBB, Ravina Shamdasani, kepada para wartawan.

Ia menegaskan, intervensi militer tersebut justru merusak tatanan keamanan internasional dan membuat setiap negara menjadi kurang aman. "Ini mengirimkan sinyal bahwa pihak yang kuat dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan,” tambahnya.

Menurutnya, nasib masa depan Venezuela harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri. Instabilitas dan intervensi militer berlebihan hanya akan membuat masa depan hak asasi manusia berada dalam situasi yang memburuk.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu

Editor: Melisa Ester Lolindu

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait