1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Trump Kritik NATO soal Iran saat Bertemu Rutte

Zac Crellin Sumber: AP, AFP, dpa, Reuters
9 April 2026

Presiden AS Donald Trump menilai NATO "tidak ada" saat AS dan Israel menyerang Iran. Namun Sekjen NATO Mark Rutte menyebut mayoritas negara Eropa tetap memenuhi komitmennya.

Donald Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte (kiri) di Forum Ekonomi Dunia Davos, Swiss, 21 Januari 2026.
Sekjen NATO, Mark Rutte (kiri), dijuluki sebagai “pembisik Trump” karena kemampuannya merayu Presiden AS tersebut.Foto: Evan Vucci/AP Photo/picture alliance

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku "sangat kecewa" dalam pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Rabu (08/04).

Keduanya bertemu di Gedung Putih untuk membahas perang AS-Israel dengan Iran, di mana sekutu NATO tidak terlibat secara aktif.

"NATO TIDAK ADA SAAT KAMI MEMBUTUHKAN MEREKA, DAN MEREKA JUGA TIDAK AKAN ADA JIKA KAMI MEMBUTUHKAN MEREKA LAGI,” tulis Trump di platform Truth Social tak lama setelah pertemuan.

Rutte, mantan perdana menteri Belanda yang kerap dijuluki "pembisik Trump" karena kemampuannya mengambil pendekatan personal terhadap sang presiden, kemudian mengungkap sebagian isi pembicaraan dalam wawancara dengan CNN.

"Ini adalah diskusi yang sangat terbuka dan terus terang, tapi juga diskusi antara dua sahabat," kata Rutte tentang pertemuan tertutup tersebut.

Pertemuan ini berlangsung sehari setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu.

Spekulasi AS keluar dari NATO

Trump berulang kali menyebut NATO sebagai "macan kertas" dan mengancam akan menarik AS dari aliansi militer beranggotakan 32 negara di Eropa dan Amerika Utara itu.

Menjelang pertemuan, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengakui bahwa Trump kembali membahas kemungkinan keluar dari NATO

"Saya kira ini akan dibahas presiden dalam beberapa jam ke depan bersama Sekjen Rutte," ujarnya kepada wartawan sebelum pertemuan berlangsung.

The Wall Street Journal melaporkan Trump juga mempertimbangkan untuk "menghukum" beberapa anggota NATO yang dianggap tidak membantu selama perang, termasuk dengan memindahkan pasukan AS dari negara-negara tersebut.

Menanggapi komentar Leavitt, pembawa acara CNN Jake Tapper kemudian bertanya kepada Rutte apakah Trump benar-benar menyatakan AS akan keluar dari NATO.

Rutte tidak menjawab secara langsung, tetapi menegaskan kekecewaan Trump terhadap sekutu-sekutunya.

"Perlu saya tegaskan, ia sangat kecewa terhadap banyak sekutu NATO, dan saya bisa memahami alasannya," kata Rutte.

"Namun di saat yang sama, saya juga menyampaikan bahwa mayoritas negara Eropa telah berkontribusi, baik dalam penyediaan pangkalan, logistik, izin lintasan udara, maupun memastikan mereka memenuhi komitmen," tambahnya.

Rutte juga menyinggung upaya Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang mengumpulkan 34 negara lain untuk mencari cara menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran.

Trump: NATO 'gagal' dalam ujian

Perang Iran semakin memperdalam ketegangan transatlantik di perang Rusia di Ukraina, pernyataan Trump sebelumnya soal keinginan menguasai Greenland, dan tekanan AS agar negara-negara Eropa meningkatkan belanja militer.

Dalam pernyataan yang dibacakan Leavitt sebelum pertemuan, Trump mengatakan negara-negara NATO "telah diuji dan mereka gagal."

Rutte mengakui bahwa "sebagian" memang gagal, tetapi menegaskan "mayoritas besar negara Eropa" tetap memenuhi kewajiban mereka dalam NATO.

"Apa yang dilakukan AS terhadap Iran bisa terjadi karena begitu banyak negara Eropa memenuhi komitmen tersebut," kata Rutte. "Tidak semuanya, dan saya sepenuhnya memahami kekecewaannya, tapi situasinya tidak sesederhana itu."

Seorang juru bicara NATO mengatakan di X: "Sekretaris jenderal menegaskan pentingnya sekutu untuk terus meningkatkan kontribusi guna memperkuat aliansi yang lebih adil."

Merz Ungkap Isi Pembicaraan dengan Trump

00:41

This browser does not support the video element.

Perkembangan terbaru perang AS-Israel dengan Iran

AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman serangan besar-besaran terhadap infrastruktur Iran. Kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan rencana perundingan lanjutan yang dimediasi Pakistan.

Meski demikian, situasi di lapangan masih belum sepenuhnya mereda. Serangan dilaporkan masih terjadi di Iran, Israel, dan kawasan Teluk tak lama setelah pengumuman gencatan senjata. Sementara itu, Israel menyatakan dukungan terhadap kesepakatan tersebut, tetapi mengatakan bahwa konflik dengan kelompok Hizbullah di Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Felicia Salvina

Editor: Arti Ekawati

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait