1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

"Trump mengabdi pada al-Baghdadi"

8 Desember 2015

Donald Trump kembali berulah. Niatnya melarang kaum Muslim masuk ke Amerika Serikat mengundang sumpah serapah. Harian Israel, Haaretz, bahkan menyebutnya budak pemimpin IS, Abu Bakar al-Baghdadi.

Donald Trump
Foto: picture-alliance/dpa/J. Lane

Bakal calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, kembali berulah dengan mengancam akan "menutup pintu perbatasan buat kaum Muslim." Pernyataan tersebut diungkapkannya dalam konteks serangan teror Paris dan penembakan massal di San Bernardino yang menewaskan lebih dari 15 orang.

Trump melakukan sebisanya untuk kembali merebut tempat teratas di jajak pendapat. Dan strateginya itu ternyata berhasil. Trump kini mencatat 36% dukungan dari pemilih Partai Republik. Tapi kebijakan anti Muslim yang ia usung mengundang sumpah serapah dari berbagai pihak. Berikut rangkumannya:

The New Yorker, Amerika Serikat: Donald Trump kini adalah Marine Le Pen

Dalam banyak hal, Trump belum sejauh Le Pen. Ia masih mendukung imigrasi legal contohnya. Tapi, dalam hal lain, pesannya menyerupai pimpinan Front National itu dan bahkan dalam satu isu (Islam), ia mengerdilkan Le Pen.

Nada mencemooh adalah salah satu karakter Trump yang paling mencolok. Hal lain yang menjadi kegemarannya adalah peringatan berulang-ulang terhadap ancaman terhadap Amerika dan nilai-nilai yang dianutnya. Tentunya ancaman itu datang dari luar, imigran Mexiko, pengungsi Suriah atau kaum Muslim radikal.

Fortune, Amerika Serikat: Trump Mengubur Peluang Partai Republik

Adalah sesuatu yang sehat bahwa Partai Republik tenggelam dalam perdebatan buat mencari pusat gravitasinya dalam isu keamanan dan kebebasan sipil. Tapi Trump menghancurkan itu semua. Dengan membakar rasa takut dengan kebohongan, ia menjaring simpatisan yang mencakup sepertiga pemilih Republik. Bahkan jika Trump mengundurkan diri, kandidat lain harus mencari cara merangkul pendukung garis keras tanpa merusak peluang memenangkan pemilu.

Lawan Trump terkesan memahami bahwa pernyataannya terkait kaum Muslim telah melanggar batas-batas politik. Tapi kritik mereka tidak akan bisa memperbaiki kerusakan yang terlanjur tercipta.

Los Angeles Times, Amerika Serikat: Pernyataan Trump Tidak Lucu, Tapi Beracun

Bahwa calon kandidat utama untuk pemilu kepresidenan dari sebuah partai besar menggagas sebuah ide semacam itu adalah hal yang membuat perut kita mulas. Kebijakan anti Muslim milik Trump akan mengkonfirmasikan bahwa Amerika Serikat sedang berperang terhadap semua umat Muslim.

Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Obama mengatakan sudah menjadi tanggungjawab kita untuk menolak anggapan bahwa kaum muslim Amerika harus diperlakukan secara berbeda. Bisa jadi Trump tidak mendengar ucapan sang presiden, atau - yang lebih menakutkan lagi - ia mendengar tapi tidak memahaminya.

Haaretz, Israel: Ucapan Trump Membuatnya Menjadi Idiot yang Mengabdi Pada Al-Baghdadi

Bisa dipastikan, Trump sedang menghibur sang khalifat, Abu Bakar al-Baghdadi. Pemimpin Islamic State itu ingin agar penduduk Amerika merasakan takut terhadap Islam dan Muslim. Ia ingin agar tiga juta saudara seimannya di Amerika Serikat yang mungkin membencinya, dipinggirkan, diisolasi dan diserang secara fisik. Tidak ada skenario yang lebih baik ketimbang mayoritas warga AS berubah menjadi segerombolan chauvinis yang bergembira pada Senin malam ketika Trump memberikan suara pada desakan tergelap mereka.

Semua dunia akan menyaksikan bagaimana Amerika bereaksi. Tapi tidak ada yang memantau lebih seksama ketimbang Al-Baghdadi yang mungkin juga terkejut melihat negeri para pemberani itu kini tiba-tiba termakan oleh prasangka dan rasa takutnya sendiri.


rzn/yf (dari berbagai sumber)