1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikAmerika Serikat

Trump Tuntut Taiwan Bayar Jaminan Keamanan

18 Juli 2024

Donald Trump menilai Taiwan harus membayar jaminan keamanan yang disediakan AS dalam merespons agresi Cina. Menurutnya, militer AS tidak ubahnya "sebuah perusahaan asuransi."

Foto Donald Trump
Donald TrumpFoto: Michael Reynolds/EPA

Kandidat presiden AS Donald Trump mempertanyakan ulang komitmen militer Amerika Serikat terhadap Taiwan, ketika pada hari Rabu (17/7) menuntut Taipei "harus membayar kami untuk perlindungan” terhadap Cina.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Businessweek, Trump mengklaim dirinya sudah mengenal masyarakat Taiwan "dengan sangat baik" dan "sangat menghormati mereka," namun juga menyebutkan "mereka menguasai sekitar 100 persen indusri chip AS" dan oleh karena itu "harus membayar kami untuk pertahanan."

Dia mengatakan, dalam konteks meningkatnya ketegangan di Asia Pasifik, AS "tidak ubahnya sebuah perusahaan asuransi," buat Taiwan, yang "tidak membayar kita apapun."

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Trump menanggapi pertanyaan apakah AS akan membantu membela Taiwan jika terjadi invasi Cina.

Taiwan memisahkan diri dari Cina daratan setelah kemenangan Partai Komunis dalam Perang Saudara Tiongkok pada tahun 1949, yang membidani kelahiran Republik Rakyat Cina.

Namun Beijing menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya dan berjanji akan mendorong reunifikasi, bahkan dengan kekerasan jika diperlukan.

Meskipun tidak secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Taipei dan secara resmi hanya mengakui kedaulatan Cina, Washington terikat kesepakatan lama untuk menjamin keamanan Taiwan.

Baru-baru ini, AS mengirimkan paket bantuan militer bernilai miliaran dolar demi memperkuat pertahanan di pulau tersebut.

Taiwan 'emban tanggung jawab lebih besar'

Soal komentar Trump, Perdana Menteri Taiwan Cho Jung-tai menyatakan, Taipei telah meningkatkan anggaran pertahanannya dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami bersedia memikul lebih banyak tanggung jawab; kami membela diri dan memastikan keamanan kami,” katanya kepada wartawan.

"Kami juga memahami dengan jelas bahwa hubungan Taiwan-AS sangat kuat dalam beberapa tahun terakhir. Menjaga perdamaian dan stabilitas Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik adalah tanggung jawab dan tujuan kita bersama.”

Sekretaris Jenderal Partai Progresif Demokratik Taiwan Lin Yu-chang menambahkan: "Cina adalah ancaman terbesar bagi Amerika Serikat; ini adalah konsensus partai Demokrat dan Republik. Sekarang adalah era terbaik dalam hubungan Taiwan-AS."

Taiwan meningkatkan anggaran belanja militer menjadi 2,5 persen PDB, dari sebelumnya dua persen, menurut laporan Kongres AS. Untuk tahun 2024, Taipei mengumumkan anggaran pertahanan sekitar USD19,1 miliar.

Would a Trump presidency hurt German firms?

02:29

This browser does not support the video element.

Bukan bentuk amal

Anggota Kongres dari Partai Demokrat AS Raja Krishnamoorthi, menilai komentar Donald Trump menuntut bayaran dari Taiwan sebagai sebuah "pengkhianatan."

"Ketidakmauan menjamin pertahanan Taiwan bukan satu-satunya hal yang berpotensi ilegal berdasarkan Undang-Undang Hubungan Taiwan, tetapi juga sebuah pengkhianatan terhadap nilai-nilai Amerika dan institusi demokrasi kita,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Komentar Trump sebabnya dianggap menyseatkan, karena Taiwan membeli senjata AS, bukan mendapat hibah, seperti dalam kasus Ukraina.

"Kalau melihat dukungan yang kami berikan, kerja sama keamanan selama beberapa dekade telah menjadi kesempatan bagi Taiwan membeli peralatan militer Amerika Serikat," juru bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller kepada wartawan, Rabu (17/7).

"Dukungan militer ini sama sekali bukan bentuk amal dari Amerika."

rzn/as (ap,rtr)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait