Permohonan suaka gereja hampir meningkat empat kali lipat di beberapa tempat, menurut Gereja Protestan di Jerman (EKD). Namun, tidak semua orang bisa diberikan perlindungan.
Pada tahun 2024, sebanyak 2.386 orang mencari suaka perlindungan gereja di JermanFoto: Nancy Heusel/epd/picture alliance
Iklan
Permintaan perlindungan ke gereja dari para pengungsi di Jerman semakin meningkat, terutama untuk menghindari deportasi, menurut laporan Gereja Protestan di Jerman (EKD) kepada kelompok media Funke dalam pernyataan yang dirilis, Minggu (27/04).
"Jumlah permintaan telah melonjak signifikan di banyak tempat akibat tekanan deportasi yang meningkat, dengan jumlah permintaan yang kadang lebih dari empat kali lipat," ujar seorang juru bicara EKD kepada kantor berita Jerman dpa, berdasarkan laporan dari gereja-gereja regional.
Namun, ia mengatakan bahwa banyak laporan juga menunjukkan permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan karena tingginya permintaan, sehingga banyak pengungsi tetap tidak terlindungi dari tindakan otoritas.
Pemerintah baru di bawah kanselir terpilih Friedrich Merz dari partai konservatif CDU berencana untuk deportasi lebih banyak pencari suaka daripada sebelumnya. Hal ini dikarenakan angka deportasi yang sudah mulai meningkat kembali sejak pemerintahan sebelumnya, menyusul titik terendahnya pada tahun 2020.
Protes Tolak Deportasi Aktivis Pro-Palestina
02:09
This browser does not support the video element.
Mengapa pencari suaka mencari perlindungan di gereja Jerman?
Dietlind Jochims, ketua Komite Ekumenis Jerman untuk Suaka Gereja, mencatat adanya "ketakutan dan ketidakpastian yang semakin besar di antara orang-orang dengan status tinggal yang tidak aman."
Iklan
Karena rasa takut akan deportasi semakin meningkat, menyebabkan "lonjakan tajam pada jumlah permintaan perlindungan suaka gereja," kata Jochims kepada surat kabar Funke.
Menurut Kantor Federal untuk Migrasi dan Pengungsi Jerman (BAMF), sebanyak 617 pencari suaka mendapatkan perlindungan di gereja pada kuartal pertama 2025, sedikit lebih banyak dibandingkan 604 orang pada periode yang sama tahun lalu.
Pengungsi yang berlindung di gereja biasanya mendapat perlindungan sementara dari deportasi, saat kasus suaka mereka dievaluasi ulang dan dicari opsi hukum lainnya.
Sebagian besar kasus suaka gereja ini adalah kasus "Dublin”, di mana orang yang mencari perlindungan sudah mengajukan suaka di negara Uni Eropa lain dan seharusnya akan dideportasi ke sana.
Pengungsi Global: Melarikan Diri dari Bahaya
PBB melaporkan ada 82,4 juta pengungsi di seluruh dunia yang melarikan diri dari perang, penindasan, bencana alam hingga dampak perubahan iklim. Anak-anak pengungsi yang paling menderita.
Foto: KM Asad/dpa/picture alliance
Diselamatkan dari laut
Seorang bayi mungil diselamatkan seorang penyelam polisi Spanyol ketika nyaris mati tenggelam. Maroko pada Mei 2021, untuk sementara melonggarkan pengawasan di perbatasan dengan Ceuta. Ribuan orang mencoba memasuki kawasan enklave Spanyol itu dengan berenang di sepanjang pantai Afrika Utara. Foto ini dipandang sebagai representasi ikonik dari krisis migrasi di Ceuta.
Foto: Guardia Civil/AP Photo/picture alliance
Tidak ada prospek
Laut Mediterania adalah salah satu rute migrasi paling berbahaya di dunia. Banyak pengungsi Afrika yang mencoba dan gagal menyeberang ke Eropa, sebagian terdampar di Libia. Mereka terus berjuang untuk bertahan hidup dan seringkali harus bekerja dalam kondisi yang menyedihkan. Para pemuda di Tripoli ini contohnya, banyak dari mereka masih di bawah umur, menunggu dan beharap pekerjaan serabutan.
Foto: MAHMUD TURKIA/AFP via Getty Images
Hidup dalam sebuah koper
Sekitar 40% pengungsi adalah anak-anak. Beberapa tahun silam, 1,1 juta warga minoritas Muslim Rohingya melarikan diri dari kekerasan militer Myanmar ke Bangladesh Kamp pengungsi Cox's Bazar salah satu yang terbesar di dunia. LSM SOS Children's Villages peringatkan kekerasan, narkoba dan perdagangan manusia adalah masalah yang berkembang di sana, seperti halnya pekerja anak dan pernikahan dini.
Foto: DANISH SIDDIQUI/REUTERS
Krisis terbaru
Perang saudara di wilayah Tigray di Etiopia yang pecah baru-baru ini, telah memicu pergerakan pengungsi besar lainnya. Lebih dari 90% populasi Tigray saat ini bergantung pada bantuan kemanusiaan. Sekitar 1,6 juta orang melarikan diri ke Sudan, 720 ribu di antaranya adalah anak-anak. Mereka terjebak di wilayah transit, menghadapi masa depan yang tidak pasti
Foto: BAZ RATNER/REUTERS
Ke mana pengungsi harus pergi?
Pulau-pulau di Yunani jadi target pengungsi dari Suriah dan Afganistan, yang secara berkala terus berdatangan dari Turki. Banyak pengungsi ditampung di kamp Moria, pulau Lesbos, sampai kamp tersebut terbakar September lalu. Setelah itu, keluarga ini datang ke Athena. Uni Eropa telah berusaha selama bertahun-tahun untuk menyetujui strategi komunal dan kebijakan pengungsi, tetapi tidak berhasil.
Foto: picture-alliance/dpa/Y. Karahalis
Eksistensi yang keras
Tidak ada sekolah untuk anak-anak pengungsi Afganistan yang tinggal di kamp pengungsi Pakistan. Kamp tersebut telah ada sejak intervensi Soviet di Afganistan pada tahun 1979. Kondisi kehidupan di sana buruk. Kamp tersebut kekurangan air minum dan akomodasi yang layak.
Foto: Muhammed Semih Ugurlu/AA/picture alliance
Dukungan penting dari organisasi nirlaba
Banyak keluarga di Venezuela yang tidak melihat ada masa depan di negaranya sendiri, mengungsi ke negara tetangga, Kolombia. Di sana mereka mendapat dukungan dari Palang Merah yang memberikan bantuan medis dan kemanusiaan. Organisasi ini juga mendirikan kamp transit di sebuah sekolah di kota perbatasan Arauquita.
Foto: Luisa Gonzalez/REUTERS
Belajar untuk berintegrasi
Banyak pengungsi berharap masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka di Jerman. Di Lernfreunde Haus-Karlsruhe, anak-anak pengungsi dipersiapkan untuk masuk ke sistem sekolah Jerman. Namun, selama pandemi COVID-19, mereka kehilangan bantuan untuk mengintegrasi diri mereka ke dalam masyarakat baru itu. (kfp/as)
Foto: Uli Deck/dpa/picture alliance
8 foto1 | 8
Kritik terhadap suaka gereja semakin keras
Namun, seiring dengan meningkatnya seruan politik untuk memperketat deportasi, hal itu membuat kondisi suaka gereja juga menjadi lebih sulit.
Komite Ekumenis Jerman untuk Suaka Gereja mencatat, para pengungsi yang berlindung di gereja kini semakin terancam pengusiran oleh polisi, dengan beberapa kasus yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pejabat gereja juga menghadapi sanksi karena memberikan perlindungan suaka kepada para pengungsi tersebut. Namun, EKD tetap membela praktik ini.
Sebuah brosur yang diterbitkan oleh EKD pada Rabu (23/04) pekan lalu mengutip komisaris pengungsi Protestan, Christian Stäblein, yang mengatakan bahwa suaka gereja diberikan hanya setelah pertimbangan matang dan sebagai pilihan terakhir untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang mencari perlindungan agar nasib mereka bisa diakui.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris