1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
PolitikTurki

Turki Ingin Lebih dari Sekadar Menjadi Tuan Rumah KTT NATO

7 Juli 2026

Turki ingin memainkan peran lebih besar daripada sekadar menjadi tuan rumah KTT NATO. Ankara menuntut peran yang lebih besar dalam pengambilan keputusan sekaligus memamerkan kekuatan industri pertahanannya.

Papan iklan bertuliskan slogan key to peace terlihat di berbagai titik sepanjang boulevard di rute protokol menjelang KTT NATO
Ankara telah memperbaiki citranya: Pada KTT NATO, Turki ingin menekankan pentingnya peran Turki dalam aliansi tersebutFoto: Rasit Aydogan/Anadolu Agency/IMAGO

Di ibu kota Turki, persiapan berlangsung dengan sangat intensif. Kompleks militer raksasa "Ay Yıldız" yang baru selesai dibangun dan dijuluki sebagai "Pentagon Turki", menjalani tahap penyelesaian akhir. Pengamanan ditingkatkan ke level tertinggi: kendaraan berat seperti truk dan alat berat dilarang beroperasi, sementara demonstrasi dan aksi unjuk rasa juga dilarang.

Segala sesuatu yang dianggap mengganggu citra kota juga disingkirkan. Anjing-anjing liar ditangkap, pengemis diusir, dan di sepanjang rute yang akan dilalui para kepala negara dan pemerintahan dipasang dinding penutup pandangan agar kawasan-kawasan miskin tidak terlihat.

Bagi kalangan akademisi, pengacara, politikus, aktivis lingkungan, guru, dan pensiunan yang sebelumnya ditangkap atas tuduhan terorisme, kabarnya juga tidak menggembirakan. Banyak dari mereka untuk sementara tetap harus mendekam di penjara. Hingga KTT berakhir pada tanggal  10 Juli, Ankara praktis berada dalam kondisi keadaan darurat secara de facto.

Bagi pemerintah Turki, KTT NATO pada tanggal 7–8 Juli memiliki arti yang sangat penting. Ankara ingin memanfaatkan momentum ini untuk semakin menegaskan peran strategisnya di dalam aliansi. Di tengah dunia yang semakin tidak menentu, Turki tidak lagi memandang dirinya sekadar sebagai penjaga sayap tenggara NATO, melainkan sebagai negara yang ingin ikut membentuk kebijakan keamanan utama aliansi.

Pimpinan NATO sendiri juga menilai posisi Turki sangat penting. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Turki, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memuji kekuatan angkatan bersenjata Turki yang besar dan terlatih dengan baik, serta industri pertahanannya yang berkembang pesat.

Di sepanjang rute para tamu negara, didirikan pembatas privasi sepanjang beberapa kilometer, menyembunyikan lingkungan kumuh di ibu kota.Foto: Rasit Aydogan/Anadolu Agency/IMAGO

Turki ingin berada di pusat kekuasaan NATO

Sejak bergabung dengan NATO pada tahun 1952, Turki menjadi salah satu pilar penting pertahanan aliansi. Dalam beberapa tahun terakhir, negara itu juga berupaya membangun citra sebagai mediator dalam berbagai krisis internasional, seperti perang di Ukraina maupun ketegangan terkait Iran. Ankara ingin menunjukkan bahwa dirinya merupakan aktor yang tidak tergantikan, dengan pengaruh yang melampaui sekadar letak geografisnya.

Di sisi lain, ketidakpastian mengenai masa depan peran Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Perdebatan yang terus muncul mengenai jaminan keamanan Amerika bagi Eropa telah mendorong banyak negara NATO membahas perlunya kemandirian yang lebih besar. Ankara melihat perkembangan ini sebagai peluang untuk memperkuat pengaruh politiknya di dalam aliansi.

Turki juga mengikuti dengan cermat ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya, serta perdebatan mengenai otonomi pertahanan Eropa. Menurut Ankara, jika Eropa mengembangkan identitas keamanan dan pertahanan sendiri, hal itu tidak boleh menjadi pesaing NATO, melainkan harus melengkapi peran aliansi tersebut.

Pemerintah Turki juga memperingatkan agar sekutu penting di luar Uni Eropa tidak dikesampingkan. Agar model tersebut dapat berjalan efektif, negara-negara Eropa yang bukan anggota Uni Eropa—terutama Turki, Inggris, dan Norwegia—harus tetap dilibatkan.

Kemitraan strategis: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Sekretaris Jenderal NATO Mark RutteFoto: Mustafa Kamaci/PPO/Handout via REUTERS

Mengapa Turki penting bagi NATO?

Turki bergabung dengan NATO pada masa Perang Dingin. Kemitraan tersebut menguntungkan kedua belah pihak. NATO memperoleh sekutu strategis di sisi selatan Uni Soviet, sementara Ankara mendapatkan jaminan keamanan dari aliansi tersebut.

Hingga kini, Turki masih memiliki posisi geopolitik yang sangat strategis. Negara itu berada di persimpangan antara Eropa, Asia, dan Timur Tengah, serta berbatasan langsung dengan sejumlah kawasan konflik. Menurut mantan Wakil Sekretaris Jenderal NATO Hüseyin Diriöz, posisi tersebut menjadikan Turki penting bukan hanya dari sisi militer, tetapi juga dalam aspek energi, ekonomi, dan keamanan. Karena itu, relevansinya bagi NATO tetap sangat besar.

Turki juga memiliki keunggulan strategis lain. Berdasarkan Konvensi Montreux, negara tersebut mengendalikan selat yang menghubungkan Laut Aegea dan Laut Hitam. Kendali atas jalur ini memberi Turki pengaruh besar terhadap keseimbangan militer di kawasan.

Senjata andalan baru Ankara: Industri persenjataan Turki berkembang pesat dan akan sengaja ditonjolkan pada KTT NATOFoto: Muhammed Enes Yildirim/AA/picture alliance

Industri pertahanan akan dijadikan etalase utama

Ankara menargetkan peningkatan belanja pertahanan hingga mencapai lima persen dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir 2030. Saat ini, setelah Amerika Serikat, Turki memiliki angkatan bersenjata terbesar kedua di NATO.

Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pengeluaran militer Turki meningkat 7,2 persen dibanding tahun sebelumnya hingga melampaui 30 miliar dolar AS. Dengan angka tersebut, Turki berada di peringkat ke-18 dunia dalam belanja militer.

Salah satu tujuan utama Ankara adalah menampilkan kemampuan industri pertahanannya. Sejumlah pengamat menilai bahwa di masa depan NATO tidak hanya membutuhkan jumlah pasukan yang besar, tetapi juga kapasitas produksi, inovasi teknologi, dan rantai pasok yang andal.

Karena itu, forum industri pertahanan yang sebelumnya hanya menjadi acara pendamping kini untuk pertama kalinya dimasukkan sebagai bagian resmi dari agenda KTT NATO. Beberapa kesepakatan antarsekutu diperkirakan akan diumumkan dalam forum tersebut.

Mark Rutte juga menyoroti hal ini. Menurutnya, dengan sekitar 3.000 perusahaan di sektor pertahanan, Turki merupakan salah satu negara penting dalam industri militer NATO.

Presiden AS Donald Trump juga telah mengkonfirmasi kehadirannya di KTT di Ankara dan berulang kali menekankan hubungan baiknya dengan "sahabatnya" ErdoganFoto: Yoan Valat/AFP

Turki ingin definisi keamanan NATO diperluas

Melalui KTT ini, Ankara juga ingin memperluas konsep keamanan NATO. Pemerintah Turki mendorong agar tantangan keamanan di Eropa Selatan dan Timur, kawasan Laut Hitam, serta Timur Tengah mendapat perhatian yang lebih besar dalam strategi aliansi.

Karena itu, Turki mendukung pengaktifan kembali Istanbul Cooperation Initiative (ICI) yang dibentuk pada 2004. Program tersebut bertujuan memperkuat kerja sama keamanan dengan negara-negara Timur Tengah. Anggotanya meliputi Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Ankara menilai inisiatif tersebut sangat penting dan terus mendorong NATO mempererat kerja sama dengan negara-negara tetangga di kawasan selatan.

Bagi Ankara, KTT NATO kali ini jauh lebih dari sekadar pertemuan diplomatik berskala besar. Pemerintah Turki melihatnya sebagai kesempatan untuk menegaskan posisi negaranya sebagai kekuatan militer, mediator dalam berbagai krisis, sekaligus mitra yang tidak tergantikan di salah satu kawasan paling strategis bagi NATO.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Turki

Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait