1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Turki Kobarkan Perang Lawan Teror

14 Maret 2016

Beberapa jam pasca ledakan bom di Ankara, pasukan udara Turki lancarkan serangan di utara Irak, yang banyak dihuni kaum pemberontak Kurdi. Presiden Turki Erdogan nyatakan bertekad menumpas terorisme.

Türkei Anschlag in Ankara
Foto: Reuters/M. Ozer

Jumlah korban tewas serangan bom di Ankara, Turki terus bertambah. Hingga hari Senin (14/013) tercatat 37 orang tewas dan ratusan orang luka-luka dalam insiden bom mobil Minggu (13/03) malam di jantung ibukota Turki. Konfirmasi jumlah korban tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan Turki, Mehmet Muezzinoglu, usai pertemuan dengan para pejabat keamanan negara tersebut.

Sebagai reaksi atas serangan bom di Ankara, jet tempur F-16 dan F-4 dari angkatan udara Turki melancarkan serangan ke kawasan Kurdi di utara Irak. Sejauh ini tidak ada laporan korban jiwa akibat serangan udara itu.

Ledakan yang terjadi Minggu di sebuah halte bis di kawasan ramai, Kizilay Square,di dekat kantor Kementerian Pendidikan, memiliki kemiripan dengan serangan bunuh diri pada 17 Februarai silam. Dalam serangan bulan lalu, 29 anggota militer Turki tewas. Sebagian besar korban dalam serangan terbaru adalah warga sipil, demikian menurut laporan media lokal. Dua penyerang bom bunuh diri, seorang diperkirakan perempuan, diduga berada di antara mereka yang tewas.

Pemerintah Turki memberlakukan media blackout serangan itu, namun sensor tidak berlaku untuk media pemerintah. Media Turki melaporkan lembaga peradilan di Ankara telah mengeluarkan larangan media sosial, setelah gambar dari adegan serangan adegan itu tersebar.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas insiden ini. Menteri Dalam Negeri Turki, Efkan Ala mengatakan indikasi awal tentang serangan tidak akan dirilis sampai penyelidikannya resmi selesai. Namun beberapa jam setelah ledakan bom di Ankara, angkatan udara Turki melancarkan serangan kubu Partai Pekerja Kurdistan PKK.

Perang lawan teror

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan serangan itu mempunyai target untuk mengganggu "integritas negara“ dan bersumpah untuk bergerak maju dalam perang melawan terorisme.Partai HDP pro-Kurdi mengutuk serangan itu.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan: "Tidak ada pembenaran atas tindak kekerasan. Semua sekutu NATO menyatakan solidaritas dengan Turki, dan tekad kami sangat tegasuntuk memerangi segala bentuk terorisme." Dalam sebuah pernyataan Uni Eropa menyampaikan rasa belasungkawa dan berjanji akan berpihak pada semua orang yang menderita kekerasan.

Melalui juru bicaranya di Kremlin, Presiden Rusia Vladimir Putin mengutuk serangan bom tersebut. Namun seiring dengan itu juga mengecam aksi militer Turki ke utara Irak.

Di Sydney, Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop menceritakan, duta besar Australia untukTurki, James Larsen, tengah berada dalam kendaraannya di persimpangan dalam jarak 20 meter dari ledakan bom. "Dia baik-baik saja, walau jelas terguncang dengan apa yang dilihatnya. Kami belum yakin apakah ada orang asing yang telah tewas atau terluka dalam serangan itu, tapi penyelidikan masih berlangsung, " ujarnya. "Dia menceritakan yang dilihatnya itu adalah pemandangan mengerikan. Namun semua staf kedutaan Australia dalam kondisi baik."

Foto: Reuters/T. Berkin

Ada peringatan sebelumnya

Pada hari Jumat, kedutaan Amerika Serikat di Ankara telah memperingatkan kemungkinan adanya "potensi rencana teroris untuk menyerang gedung-gedung pemerintah Turki dan perumahan yang terletak di kawasan Bahcelievler di Ankara, sekitar 3 kilometer dari lokasi ledakan hari Minggu.

17 Februari lalu pemboman di Ankara dengan target konvoi militer, telah menewaskan 30 orang termasuk pelaku serangan. Sebuah kelompok sempalan bersenjata Turki, Kurdistan Freedom Falcons (TAK), mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Pada bulan Januari, seorang penyerang bunuh diri menewaskan 12 wisatawan Jerman di Istanbul. Pemerintah Turki mengatakan milisi ISIS bertanggung jawab atas serangan itu. Sementara dua pemboman bunuh diri di Ankara pada bulan Oktober menewaskan 100 orang. ISIS diduga berada dibalik serangan tersebut.

Ledakan juga guncang Pantai Gading

Sementara di pantai gading, milisi Al Qaida Islamic Maghreb (AQIM) menewaskan belasan orang, dalam sebuah serangan bersenjata. Para wisatawan pantai Grand Bassam, yang letaknya tak jauh dari ibukota pantai gading, Abidjan jadi sasaran serangan.

Beberapa wisatawan yang meninggal dunia akibat serangan itu merupakan warga negara asing. Kementrian luar negeri di Berlin mengkonfirmasi, seorang warga Jerman termasuk korban tewas dalam serangan itu.

ap/as(rtr/dpa/dw/afp/ap)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait