UE dan Rusia Lakukan Pendekatan Kembali
14 November 2008
Perundingan mengenai kesepakatan kemitraan akan dilanjutkan dan kerjasama untuk menangani krisis keuangan saat ini akan dilaksanakan.
Pertemuan Uni Eropa dan Rusia di Nice, diselenggarakan di istana Sarde yang megah dengan latar belakang pemandangan indah dari pesisir Cote d’Azur. Setting yang ideal ini tampaknya juga telah membawa pengaruh positif pada pertemuan puncak itu. Sekitar tiga bulan setelah perang Georgia di Kaukasus, Uni Eropa dan Rusia ingin memulai kembali kemitraannya. Ketua dewan UE saat ini Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengungkapkan: „Eropa dan Rusia harus mengupayakan kepentingan bersama. Dan pada peristiwa dunia yang bersejarah ini kami sesungguhnya tidak memerlukan konflik. Kami benar-benar tidak perlu konfrontasi, tidak perlu perpecahan dan juga tidak perlu perang. Kami perlu kerjasama erat dan kesatuan."
Perundingan mengenai kesepakatan kemitraan baru diharapkan dilanjutkan kembali dalam waktu dekat. Beberapa masalah mendasar masih belum juga terselesaikan, misalnya masalah status di Georgia. UE bersikukuh bahwa Ossetia Selatan dan Abkhazia tetap merupakan bagian Georgia dan Rusia dinyatakan belum memenuhi secara keseluruhan kewajiban yang berkaitan dengan rencana gencatan senjata. Namun Presiden Rusia Dmitri Medvedev melihat soal ini sebaliknya: „Rusia mengakui integritas teritorial Georgia sepenuhnya, sesuai dengan ketentuan pengakuan sebelumnya terhadap Ossetia Selatan dan Abkhazia sebagai kawasan merdeka sesuai hukum internasional. Saya pikir bahwa rencana Medvedev-Sarkozy telah dilaksanakan secara keseluruhan."
Menghadapi masalah yang sama
Namun perbedaan pendapat yang masih ada diharapkan tidak lagi menghambat kerjasama di sektor lain, misalnya dalam upaya mengatasi krisis keuanganan dan ekonomi. Kita semuanya menghadapi tantangan yang sama, demikian kata Presiden Sarkozy. Komisaris urusan luar negeri UE Benita Ferrero-Waldner sependapat dengannya dan mengungkapkan:
„Kita semua kena dampak krisis keuangan, mula-mula Amerika Serikat, kemudian Eropa, Rusia, juga Cina dan negara-negara lain. Karena itu saya pikir bahwa pertemuan puncak G-20 di Washington, di mana Eropa , Rusia dan negara lainya ikut serta, merupakan langkah yang amat tepat."
Baik UE maupun Rusia menuntut reformasi lembaga-lembaga keuangan dunia dan peningkatan pengawasan pasar keuangan, meski tuntutan itu masih belum jelas. Namun, kesamaan semacam itu tidak dapat menyingkirkan masalah laten antara UE dan Rusia, apalagi soal yang menyangkut konflik Kaukasus.
Ketergantungan UE terhadap pasokan energi dari Rusia membuat UE tidak nyaman. Karena itu UE ingin mendiversifikasi pemasok, menghemat energi dan meningkatkan produk energi sendiri. Tapi tujuan dari kesepakatan kemitraan itu memang untuk mendapatkan jaminan pasokan gas dan minyak dari Rusia untuk ke depan. Wajarlah jika kesepakatan itu penting bagi UE karena menyangkut kepentingannya sendiri.
Banyak tergantung pada Obama
Tema sulit lainnya yang dibicarakan di Nice adalah mengenai kebijakan keamanan. Menanggapi rencana AS menempatkan sistem penangkis rudal di Polandia dan Ceko, Rusia menyatakan akan memasang sistem rudal jarak pendek di Kaliningrad. Namun, menjelang pertemuan puncak di Nizza Presiden Rusia Medvedev mengatakan, bila AS membatalkan rencana sistem penangkis rudalnya, maka Rusia juga tidak menempatkan rudalnya di Kaliningrad. Dalam hal ini tampaknya banyak sekali tergantung pada Presiden terpilih AS Barack Obama, apakah ia akan melaksanakan rencana tersebut.
Ketua Komisi UE, José Manuel Barroso mengkritik Rusia secara tidak langsung, tapi ia juga mengutarakan visinya: "Masa depan dari kemitraan antara UE dan Rusia harus ditentukan melalui isu ekonomi dan tidak melalui rudal."
Prancis yang saat ini menjabat ketua dewan di UE mengharapkan bahwa pertemuan puncak di Nice itu dapat mendukung upaya tersebut. (cs)