UE - Rusia Sepakat Perluas Kemitraan
7 Februari 2009
Rusia dan Uni Eropa sebenarnya menginginkan hal yang sama: sebuah kemitraan strategis. Dan tentunya secepat mungkin. Jadi siapapun yang mengharapkan hasil kongkret dari pertemuan puncak antara Komisi Eropa dan duo pemimpin Rusia hari Jumat (6/02) di Moskow, bakal kecewa.
Presiden Dimitri Medvedev, Perdana Menteri Vladimir Putin, dan Presiden komisi Eropa Jose Manuel Barroso cuma menekankan keseriusan kedua belah pihak untuk sebuah perundingan yang konstruktif.
"Terdapat sejumlah masalah global yang harus kita hadapi bersama - dari krisis keuangan, keamanan pasokan energi, sampai perlindungan iklim. Tentu saja ini adalah tentang kerangka kerja sama antara Rusia dan Uni Eropa. Komisi Eropa sangat serius untuk menjadikan perundingan kali ini positif dan efektif," ujar Barroso.
Barroso tidak berusaha menyembunyikan fakta bahwa Uni Eropa masih geram atas blokade pasokan gas Rusia yang berlangsung selama dua minggu. Moskow sendiri memahami sikap UE, lagian Rusia berkeyakinan bahwa Ukraina-lah yang bersalah atas penghentian pasokan gas tersebut.
Tak heran jika Medvedev melirik jalur pasokan alternatif yang lain - tidak cuma Pipa Laut Baltik dan Jalur Selatan, melainkan juga menekankan pentingnya struktur hukum dan keamanan pasokan gas.
"Kita bisa mengatakan beribu kali, bahwa masalah bilateral semacam ini antara kedua pihak yang berseteru harus dicari jalan keluarnya. Tapi faktanya adalah, kepentingan pihak ketiga-lah yang pada akhirnya terganggu. Maka kita harus berupaya menciptakan sebuah sistem hukum internasional yang melindungi semua pihak dari konflik semacam itu. Sistem yang sudah ada, sebagaimana kita lihat sendiri, telah gagal. Yang saya maksudkan salah satunya adalah Charta Energi," tandasnya.
Pemerintah Rusia bahkan sebelum krisis gas bulan lalu sudah menentang Charta Energi. Menurut Moskow, Uni Eropa menuntut pembukaan pasar energi Rusia, namun juga berupaya melindungi sturktur pasokan energi-nya dari pengaruh Rusia. Sebab itu Rusia menginginkan sebuah perjanjian energi yang baru.
Perdana Menteri Putin berulangkali menekankan, pemerintahannya siap mencari jalan kompromi. Meskipun dengan syarat kepentingan Rusia harus tetap diakui.
Selain itu, Moskow juga menuntut Uni Eropa memahami situasi yang harus dihadapi Rusia. Singkatnya Rusia tidak ingin selalu dijadikan kambing hitam atas setiap konflik gas dengan Ukraina atau juga dengan Georgia. Barroso sendiri berkomentar sederhana,
"Kita harus menjalani hubungan antara kedua pihak se-positif mungkin. Kita harus memperdalam hubungan melalui sikap yang bisa diandalkan, bisa dipercaya dan dapat diperhitungkan," tandasnya.
Komisaris Eropa Günther Verheugen yang merupakan satu dari sembilan komisaris Eropa yang datang ke Moskow, mengharapkan hasil yang lebih kongkret dari pertemuan di Moskow. Ia menuntut, Uni Eropa dan Rusia menyempurnakan pembicaraan mengenai nota kesepahaman. Peluang selanjutnya buat kedua pihak adalah pertemuan puncak Uni Eropa Rusia bulan Mai mendatang.(rzn)