1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Uni Afrika Tolak Sudan Jadi Ketua

31 Januari 2007
KTT Uni Afrika di ibukota Ethiopia Addis Abeba
KTT Uni Afrika di ibukota Ethiopia Addis AbebaFoto: AP

Hasil konferensi Uni Afrika yang membatalkan giliran Sudan menjadi ketua Uni Afrika sesuai prinsip rotasi, gara-gara krisis Darfur dikomentari sejumlah harian Eropa. Harian Inggris The Guardian yang terbit di London, dalam tajuknya mengomentari : keputusan Uni Afrika itu amat tepat. Lebih lanjut harian ini menulis : Jika presiden Sudan terpilih sebagai ketua Uni Afrika, yang antara lain juga bertugas menyelesaikan krisis Darfur, itu berarti sebuah kekalahan yang dibuat sendiri. Sebuah pertanda lain bahwa Uni Afrika sudah matang, adalah keputusan mengalihkan jabatan ketua kepada Ghana. Keputusan ini dibuat, bukan berlatar belakang sentimentalitas, karena Ghana merayakan ulang tahun ke 50 kemerdekaannya. Atau merupakan sambutan bagi Kofi Annan, putra terbaik Ghana yang kini ibaratnya pulang kampung. Melainkan sebagai penghargaan, karena Ghana memperoleh penilaian yang baik dalam bidang politik dan ekonomi dalam ujian yang dilakukan Uni Afrika.

Sementara harian Perancis La Croix yang terbit di Paris berkomentar : Jika tidak diambil tindakan cepat, warga Darfur akan musnah. Lebih lanjut harian ini menulis; sejak beberapa bulan terakhir, situasi di Darfur bertambah gawat. Tidak ada yang tahu, bagaimana meredam belitan aksi kekerasan tsb. PBB seharusnya memiliki kemampuan, melaksanakan misinya. Dan Uni Afrika seharusnya memperoleh izin dari pemerintah di Khartum, bagi masuknya pasukan perdamaian. Jika tidak, semuanya akan terlambat dan penduduk Darfur sudah tidak ada lagi.

Harian Jerman, Volksstimme yang terbit di Magdeburg berkomentar; dalam konferensi Uni Afrika terjadi hal yang luar biasa. Pertama, perhimpunan ini secara kolektiv dapat menghadapi mitra yang paling tidak menyenangkan, yakni Sudan. Rezim di Khartum ditolak menduduki jabatan ketua. Dan yang kedua, dalam tema Somalia disepakati sebuah konferensi perujukkan. Bagi negara yang terus dilanda perang, ini merupakan sebuah kemajuan.

Tema lain yang juga disoroti dengan tajam oleh harian Eropa, adalah kasus yang membayangi menteri luar negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier berkaitan dengan perkara tahanan Guantanamo asal Jerman, Murat Kurnaz. Harian Austria Der Standard yang terbit di Wina berkomentar : Manajemen krisis dari Steinmeier tidak bermutu. Lebih lanjut dalam tajuknya harian ini menulis : Mula-mula Steinmeier menyangkal mendapat tawaran pembebasan Kurnaz dari pihak AS. Setelah itu ia menyebut Kurnaz merupakan ancaman keamanan jika dibebaskan. Sekarang saat yang tepat, bahwa Steinmeier membeberkan masalahnya dengan jelas di depan komisi penyidik. Bukannya memberikan keterangan sepotong-sepotong dalam wawancara koran. Lebih cepat masalahnya tuntas, jauh lebih baik. Karena teka-teki yang diulur itu, bukan hanya merusak citra Steinmier, melainkan citra seluruh pemerintah Jerman.

Terakhir harian Italia Corrriere della Sera yang terbit di Milano berkomentar : Karir Steinmeier terancam oleh mantan tahanan Guantanamo. Lebih lanjut harian ini menulis : Kontroversi tsb juga menekan pemerintahan koalisi besar di Jerman. Kini masalahnya semakin rumit, karena menurut dokumen terbaru, AS menawarkan pembebasan itu secara bersyarat. Steinmeier yang dibela setengah hati oleh kanselir Angela Merkel, akan tetap menjadi sasaran tembak.