Pada tahun 1999, NATO menggunakan amunisi uranium selama Perang Kosovo. Banyak tentara kemudian mengidap kanker, dan beberapa di antaranya menerima kompensasi. Di Kosovo, tanahnya tetap beracun hingga saat ini.
Pada Maret 1999, sebuah jet tempur Amerika dipersenjatai dengan bom yang mengandung uranium terkuras di lepas pantai Albania, yang kemudian digunakan di KosovoFoto: Mike Nelson/dpa/picture alliance
Iklan
“Aku masih bisa mengingat dengan jelas hari terakhir itu,” kata Emerico Maria Laccetti, mantan kolonel divisi militer Palang Merah Italia.
Selama Perang Kosovo pada 1999, ia ditempatkan di Albania, hanya beberapa ratus meter dari perbatasan dengan Kosovo. Ia menjabat sebagai komandan rumah sakit lapangan untuk para pengungsi dari provinsi tersebut, yang saat itu masih merupakan bagian dari Serbia.
“Kami berdiri di atas kontainer dan menyaksikan pengeboman,” ujarnya.
“Rasanya seperti pesta kembang api Tahun Baru yang jahat. Bahkan dari kejauhan, kami bisa merasakan tekanan udara, gelombang kejut yang menembus tubuh kami. Tapi tidak, kami tidak diberitahu tentang bahaya spesifik dari senjata yang digunakan.”
Pada Maret 1999, Operasi Allied Force olehNATO melakukan intervensi dalam konflik antara negara Serbia dan penduduk mayoritas Albania di Kosovo, yang telah memanas selama bertahun-tahun.
Selama 78 hari, aliansi itu menerbangkan hingga 1.000 pesawat untuk menyerang pasukan keamanan Serbia.
Menurut data resmi, lebih dari 28.000 bahan peledak dijatuhkan, termasuk amunisi uranium terkuras (depleted uranium, DU) yang kontroversial dan diduga dapat menyebabkan kanker.
Amunisi ini memiliki inti dari uranium terkuras, yang memiliki daya tembak tinggi karena kepadatan logamnya tiga kali lebih besar dari timah. Karena itu, senjata ini digunakan terutama untuk melawan tank dan target lapis baja.
Dampaknya dapat menghasilkan debu uranium halus yang tetap memancarkan radiasi dan dapat menyebabkan masalah kesehatan jika terhirup.
NATO menolak tuduhan penyebab kanker
Menanggapi pertanyaan mengenai risiko kesehatan akibat amunisi DU, NATO hanya memberikan pernyataan tertulis:
Iklan
“Kami sangat memperhatikan isu kesehatan dan lingkungan,” demikian bunyinya.
Pada 2001, sebuah komite tentang DU menyimpulkan bahwa penggunaan amunisi uranium terkuras di Kosovo “tidak menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang bagi penduduk”, mengutip temuan independen.
NATO juga merujuk pada laporan PBB tahun 2014:
“Ini adalah bukti ilmiah yang dapat dipercaya, dan kami tetap berpegang padanya,” kata aliansi militer itu dalam pernyataannya.
Namun, kesimpulan ini bertentangan dengan putusan pengadilan Italia atas gugatan sekitar 500 veteran Perang Kosovo yang mengembangkan kanker setelah diduga terpapar amunisi uranium terkuras.
Laccetti mengatakan bahwa ia menyadari rumah sakit lapangan yang ia pimpin di Morina, Albania, berada di “zona panas”, dekat daerah konflik aktif selama pengeboman NATO, sesuatu yang memang berisiko tinggi.
“Yang tidak pernah kami diberitahu,” katanya, “adalah bahwa jenis amunisi tertentu dapat menimbulkan bahaya jangka panjang, bahkan jika kita tidak terkena langsung, misalnya dari bahan peledak yang tidak meledak di dekat kita atau dari zat yang digunakan dalam pembuatan amunisi.”
Foto: Filip Slavkovic
Pusat kota Pristina
Pristina, Ibukota Kosovo. Ketika Jugoslavia masih berdiri, gedung berbentuk tenda, di sebelah kiri foto, menyandang nama pahlawan Serbia dan Albania, yang berperang melawan tentara pendudukan dalam Perang Dunia ke-2. Sejak dimulainya perang antara Albania dan Serbia untuk memperebutkan Kosovo, gedung ini berganti nama menjadi Istana Olahraga.
Foto: Filip Slavkovic
Orang Hilang
Pritinia sudah membenahi kembali kotanya yang rusak akibat perang. Dan ibukota Kosovo ini bangkit berusaha untuk menampilkan diri sebagai sebuah kota metropolitan baru yang modern. Hanya potret-potret 1.500 orang Albania yang masih hilang, yang digantungkan di depan pusat gedung pemerintahan, yang masih mengingatkan akan perang yang terjadi di kawasan ini.
Foto: Filip Slavkovic
Perpustakaan Nasional
Kosovo memiliki rata-rata penduduk termuda di Eropa. Sekitar 60 persen warga Kosovo berusia di bawah 35 tahun. Banyak kaum muda datang ke Pristina untuk berkuliah di kota ini. Gedung perpustakaan universitas, yang sekarang bernama Perpustakaan Nasional merupakan lambang ibukota Kosovo, Pristina.
Foto: Filip Slavkovic
Gereja Serbia yang Terbakar
Hanya 100 meter dari Perpustakaan Nasional, di atas lahan yang direncankan akan dibuat taman, berdiri sebuah gedung setengah jadi. Gedung ini dibangun sebelum Perang Kosovo oleh pemerintah Serbia sebagai pusat Gereja Ortodoks. Gedung gereja ini terbakar lima tahun lalu dalam sebuah demonstrasi anti Serbia yang berujung kerusuhan.
Foto: Filip Slavkovic
Penganut Agama Islam
35 gereja dan biara Serbia di wilayah Kosovo menjadi korban kerusuhan bulan Maret tahun 2004. Dalam peperangan pada tahun 1999, polisi dan tentara Serbia menghancurkan sekitar 100 mesjid. Mayoritas warga Albania adalah penganut agama Islam, hanya sebagian kecil saja yang beragama Katolik. Mesjid agung (foto) ini terletak di pusat ibukota, tidak jauh dari Jalan UCK.
Foto: Filip Slavkovic
Tugu Peringatan Pejuang UCK
Setelah bertahun tahun melakukan upaya mencapai kemerdekaan lewat jalur politik, akhirnya pada tahun 1997 pejuang Tentara Pembebasan Kosovo (UCK) mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan wilayah Kosovo dari Serbia. Kekerasan perang meningkat pada tahun 1998, satu tahun kemudian Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) melancarkan serangan udara terhadap Serbia. Untuk menghormati pejuang UCK yang tewas, dibangun banyak tugu-tugu, seperti tugu pahlawan di kota Rrizren ini.
Foto: Filip Slavkovic
Ketenangan dalam Ketegangan Etnis
Prizren, yang terletak di sebelah selatan Kosovo, merupakan kota yang multi etnis. Selain orang Albania, di kota ini juga bermukim orang Turki, orang Rom, orang Askhali dan orang Serbia. Kemiskinan terasa di kota ini. Lebih dari 40 persen penduduk kota ini adalah pengganggur. Banyak dari mereka mencari nafkah sebagai penyemir sepatu, yang juga sekaligus segagai ‘pusat informasi’ kehidupan di kota Prizren.
Foto: Filip Slavkovic
Kekurangan Listrik
Prizren terletak di tebing yang terjal dengan jalan-jalannya yang indah. Meskipun kabel listrik bergelantungan memenuhi langit-langit kota, akan tetapi penghuni kota ini sering mengalami kekurangan listrik. Kosovo memiliki banyak batubara, tetapi karena pembangkit tenaga listrik sangat tua, kebutuhan listrik sama sekali tidak bisa dipenuhi.
Foto: Filip Slavkovic
Pengungsian – Setelah Perang
Di bagain barat Kosovo, di kaki Gunung Rugove, terletak kota Istog, yang beberapa dasawarsa merupakan wilayah multi etnis. Bahkan orang Albania penganut Katolik pun bertempat tinggal di sini. Namun sesudah Perang Kosovo kebanyakan orang Serbia, yang berjumlah sekitar 200.000, melarikan diri ke daerah-daerah lain.Rumah yang mereka tinggalkan, seperti misalnya di desa Sinaje, terbakar.
Foto: Filip Slavkovic
Insiden Kekerasan
Mitrovica yang terletak di tepe Sungai Ibar, di utara Kosovo merupakan kota yang terdiri dari dua bagian. Di tepi selatan bermukim orang Albania, di tepi utara tinggal orang Serbia. Masih ada sedikit orang Albania yang bertahan bertahan di bagian utara kota Mitrovica. Konflik antara etnis sering menyebabkan insiden terajadi di situ. Dalam insiden terakhir, beberapa toko Albania terbakar.
Foto: Filip Slavkovic
Monumen Pemisahan
Jembatan utama di Mitrovica, yang menjadi simbol negatif pemisahan warga Albania dan Serbia di Kosovo. Hampir tak seorangpun setiap harinya terlihat melintasi jembatan ini. Bahkan polisi juga lebih memilih untuk tetap diam di dalam pos jaga mereka.
Foto: Filip Slavkovic
Ibukota yang Ramai
10 tahun setalah perang berakhir, Pristina sudah terlihat menjadi kota yang ramai. Di pelosok kota dibangun rumah-rumah baru, seperti di dekat gelanggang sepakbola tua ini. Walaupun krisis keuangan global sedang melanda dunia, pemerintah Kosovo menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen.
Foto: Filip Slavkovic
12 foto1 | 12
Penyakit jangka panjang
Ketika Laccetti pulang pada Juli 1999, ia mengalami kesulitan bernapas dan pergi ke rumah sakit untuk diperiksa.
“Para petugas medis tiba-tiba menjadi sangat panik,” kenangnya.
Akhirnya, seorang dokter menunjukkan hasil pemeriksaan:
“Ada sesuatu di paru-paruku berukuran 24 x 12 x 14 sentimeter.”
Pria yang saat itu berusia 36 tahun itu didiagnosis menderita tumor ganas yang sangat agresif.
Laccetti awalnya berhasil menjalani pengobatan, namun pada 2008, ia kembali terserang kanker.
Hasil pemeriksaan jaringan menunjukkan hal yang mengkhawatirkan:
“Mereka menemukan sejumlah besar partikel keramik yang berbentuk bulat sempurna, seolah-olah aku berdiri di dalam tungku peleburan logam.”
Kesimpulannya jelas:
“Partikel-partikel ini telah tertanam dalam tubuhku selama bertahun-tahun dan dapat menyebabkan kerusakan baru melalui perpindahan atau peradangan.”
Pada tahun 1999, NATO menggunakan amunisi uranium terkuras di desa Pllenajë, KosovoFoto: Vjosa Cerkini/DW
Gugatan yang berhasil di Italia
Laccetti mengetahui bahwa ada tentara lain seusianya yang ditempatkan di wilayah yang sama dan mendapat diagnosis serupa. Ia kemudian menghubungi pengacara Angelo Tartaglia, yang mewakili para korban.
Sekitar 500 anggota militer berhasil menuntut negara Italia.
Di antara mereka ada Laccetti sendiri, yang oleh pengadilan di Roma pada 2009 diakui sebagai korban karena telah menjalankan tugas militernya.
Pengadilan memerintahkan agar ia mendapatkan kompensasi.
Setelah Perang Kosovo, komisi Kementerian Pertahanan Italia menyelidiki kemungkinan hubungan antara paparan DU dan kanker.
Komisi tersebut menemukan peningkatan signifikan secara statistik dalam kasus limfoma non-Hodgkin, sejenis kanker darah, di antara para tentara yang terdampak.
Namun, studi lain, seperti laporan WHO pada tahun yang sama, tidak menemukan bukti jelas tentang hubungan langsung antara DU dan kasus penyakit individu.
Pemboman atas Serbia yang dilakukan NATO mengakhiri kekerasan pasukan Serbia terhadap warga Albania di Kosovo. Tapi perang tanpa mandat PBB ini masih timbulkan kontroversi.
Foto: picture-alliance/dpa
Sisa-Sisa Perang
Konflik Kosovo menajam akhir 1990-an. Puluhan ribu orang mengungsi. Ketika semua upaya pendamaian wilayah itu gagal, NATO memulai serangan udara 24 Maret 1999 atas basis militer Serbia dan sasaran strategis lain. Setelah perang 11 pekan, penguasa Serbia Slobodan Milošević akhirnya menyerah.
Foto: Eric Feferberg/AFP/GettyImages
Perlawanan Damai Gagal
Pertengahan 1980-an di Kosovo aksi protes sudah dimulai terhadap upaya Beograd, untuk mengurangi hak-hak penduduk mayoritas Albania. Tahun 1990-an tekanan semakin meningkat. Ibrahim Rugova, yang pimpin pergerakan politik Kosovo sejak 1989 bertekad lakukan perlawanan damai dan berusaha gerakkan Slobodan Milošević untuk ubah sikap. Ia tidak berhasil.
Foto: picture-alliance/dpa
Perang Gerilya Bersenjata
Di Kosovo perlawanan bersenjata terbentuk. Pasukan pembebasan UÇK memulai perang gerilya yang kejam. Mereka laksanakan serangan terhadap Serbia, tapi juga warga Albania, yang mereka anggap bersekongkol dengan Serbia. Terhadap aksi teror itu Serbia bereaksi. Rumah dibakar dan toko dirampok. Ratusan ribu orang melarikan diri.
Foto: picture-alliance/dpa
Pengusiran Sistematis
Perang tambah brutal. Untuk patahkan perlawanan UÇK dan dukungan dari masyarakat, pasukan Serbia semakin menindak warga sipil. Banyak orang lari ke hutan-hutan. Ribuan warga Kosovo juga dibawa dengan kereta dan truk ke daerah perbatasan, tanpa memiliki paspor atau dokumen yang membuktikan bahwa mereka berasal dari Kosovo. .
Foto: picture-alliance/dpa
Upaya Penengahan Terakhir
AS, Perancis, Inggris, Rusia dan Jerman menyerukan pihak-pihak yang bermusuhan Februari 1999 untuk ikut konferensi di Rambouillet untuk mencapai kesepakatan otonomi bagi Kosovo. Pihak Kosovo menerima, tapi Serbia tidak mau berkompromi. Perundingan gagal.
Foto: picture-alliance/dpa
"Intervensi Kemanusiaan"
24 Maret 1999 NATO mulai membom sasaran militer dan strategis di Serbia dan Kosovo, untuk menghentikan kekerasan terhadap warga Albania. Jerman juga ikut serangan. Operasi "Allied Force" (kekuatan aliansi) adalah perang pertama NATO dalam sejarah 50 tahunnya, dan tanpa dukungan Dewan Keamanan PBB. Rusia mengutuk intervensi tersebut.
Foto: U.S. Navy/Getty Images
Infrastruktur Hancur
Di samping serangan terhadap pangkalan militer, NATO juga memotong jalur pasokan, yaitu jaringan kereta api dan jembatan. Dalam 79 hari, aliansi militer itu melaksanakan 37.000 serangan udara. Di wilayah Serbia dijatuhkan 20.000 roket dan bom. Serangan juga menyebabkan banyak warga sipil tewas.
Foto: picture-alliance/dpa
Awan Beracun di Pančevo
Lokasi industri juga dibom. Di Pančevo, dekat Beograd bom NATO jatuh di pabrik kimia dan pupuk. Akibatnya, sejumlah besar zat beracun mengalir ke sungai, tersebar di udara dan menyerap ke tanah. Dampaknya besar bagi kesehatan masyarakat sekitar. Serbia juga tuduh NATO gunakan amunisi mengandung uranium.
Foto: picture-alliance/dpa
Perang terhadap Propaganda Perang
Untuk melumpuhkan instrumen propaganda terpenting milik Slobodan Milošević, NATO menyerang stasiun televisi negara di Beograd. Walaupun pemerintah Serbia segera mendapat pemberitahuan mengenainya, informasi tidak disebarluaskan. Akibat serangan 16 orang tewas.
Foto: picture-alliance/dpa
Bom Tidak Kena Sasaran
Di Kosovo sebuah bom NATO secara tidak sengaja mengenai jalur pengungsi. Akibatnya, diperkirakan 80 orang tewas. Itu disebut "collateral damage" oleh NATO. Demikian halnya dengan empat orang yang tewas akibat bom yang jatuh di kedutaan besar Cina di Beograd. Insiden itu sebabkan krisis diplomatik berat antara Beijing dan Washington.
Foto: Joel Robine/AFP/GettyImages
Neraca Mengerikan
Awal Juni, sinyal pertama datang dari Beograd, bahwa Slobodan Milošević bersedia berunding. NATO mengakhiri aksi pemboman tanggal 19 Juni. Neraca perang: ribuan orang tewas dan 860.000 pengungsi. Di Serbia ekonomi lumpuh sepenuhnya, sebagian besar infrastruktur hancur. Kosovo ditempatkan di bawah administrasi PBB.
Foto: picture-alliance/dpa
11 foto1 | 11
Sulit membuktikan hubungan dengan kanker
Bagi Wim Zwijnenburg, anggota Koalisi Internasional untuk Melarang Senjata Uranium (ICBUW), kasus ini jelas.
“Hakim mengakui bahwa negara Italia memiliki kewajiban untuk melindungi warganya, itulah sebabnya kompensasi diberikan,” jelas Zwijnenburg, yang telah meneliti penggunaan dan dampak DU selama lebih dari 16 tahun.
Namun ia juga mengakui,
“Sangat sulit untuk membuat pernyataan yang benar-benar pasti,” karena uranium terkuras hanya berdampak jika masuk ke dalam tubuh, biasanya dalam bentuk debu halus yang terhirup.
“Tapi jumlah pasti yang benar-benar diserap orang tidak pernah diukur dengan baik. Sangat sedikit studi jangka panjang yang dapat diandalkan.”
Penyebab kanker juga sangat kompleks, melibatkan gaya hidup tidak sehat, pengaruh lingkungan, faktor genetik, dan lainnya.
“Sulit dibuktikan,” kata Zwijnenburg.
“Apakah para korban pernah menyentuh granat DU atau berada di dekat tank yang terkontaminasi? Uranium bisa membutuhkan waktu setahun untuk menembus kulit. Dokter tidak bisa memastikan apa pun jika tidak jelas sepenuhnya. Orang mencari penyebab yang pasti, padahal kenyataannya jauh lebih rumit.”
Amunisi uranium Amerika digunakan di Irak pada tahun 2004Foto: STAN HONDA/AFP/Getty Images
Apakah NATO telah cukup membersihkan Kosovo?
Pada 2002, PBB mengeluarkan resolusi yang mewajibkan negara-negara untuk memberi tahu negara terdampak setelah penggunaan amunisi uranium dan membantu membersihkan area yang terkontaminasi.
Namun, tidak jelas sejauh mana NATO memenuhi kewajiban ini di Kosovo, karena pasukan penjaga perdamaian NATO (KFOR) yang ditempatkan di sana sejak perang berakhir tidak memberikan informasi apa pun.
Kunjungan ke beberapa lokasi menunjukkan bahwa penduduk di banyak wilayah Kosovo tidak menyadari potensi risikonya, dan tidak ada upaya dekontaminasi yang dilakukan, kecuali di satu lokasi di Lugbunari dekat Gjakova.
“NATO bisa dikritik karena menggunakan senjata ini,” kata Zwijnenburg, “tetapi lebih pantas lagi dikritik karena tidak melakukan pembersihan setelah perang. Ada protokol perlindungan yang jelas bagi tentara, tapi untuk warga sipil? Tidak ada. Sangat tidak dapat diterima menggunakan amunisi beracun lalu berpaling begitu saja.”
Wim Zwijnenburg menyelidiki uranium terkuras di Irak pada tahun 2025Foto: Vjosa Cerkini/DW
Secara resmi, bahan pembuat amunisi DU diklasifikasikan sebagai limbah radioaktif tingkat rendah hingga menengah.
Namun, kata Zwijnenburg, “di iklim lembap seperti di Balkan, cangkang peluru bisa berkarat dan hancur, meninggalkan residu berbahaya.”
Risikonya juga tidak berkurang seiring waktu, karena waktu paruh uranium hampir tak terbatas.
Bagi Zwijnenburg, ini menunjukkan adanya standar ganda dari negara-negara besar:
“Jika granat seperti itu ditemukan di taman di Belanda, area itu akan segera ditutup. Pasukan khusus dengan pakaian pelindung akan datang, menempatkan granat itu ke dalam wadah timbal, dan menyimpannya dengan aman.”
“Tapi kalau terjadi di tempat lain, sikapnya berbeda. Risiko dianggap tidak penting.”
Laccetti merasa kecewa karena kasusnya dan banyak kasus veteran lain tidak membawa perubahan mendasar.
“Amunisi uranium terkuras masih legal. Kami sudah mencoba dengan segala cara untuk melarangnya, seperti ranjau darat atau bom cluster,” katanya. “Kami gagal.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid