Urbanisasi Melaju, Juga Kemiskinan
27 Maret 2008
Komisi Ekonomi dan Sosial PBB wilayah Asia Pasifik UNESCAP menyebutkan, tingginya urbanisasi di satu sisi mendorong lajunya pertumbuhan ekonomi. Namun di lain sisi mengakibatkan maraknya kemiskinan dan berbagai persoalan..
Laporan tahunan UNESCAP yang diluncurkan serentak di berbagai kota di dunia hari Kamis (27/03), didasarkan pada penelitian sepanjang 15 tahun terakhir.
Disebutkan, jumlah penduduk miskin di Asia Pasifik mencapai hampir 700 juta jiwa. Sementara lebih dari 200 juta jiwa digolongkan dalam tingkat kemiskinan ekstrim. Jomo Kwame Sundaram, asisten khusus Sekjen PBB untuk pembangunan ekonomi menyebut, yang paling penting mencuat dari laporan tahunan ini adalah sebuah pertanyaan, mengapa di tengah laju pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik begitu cepat, angka kemiskinan masih juga luar biasa tinggi.
Ia menjawab sendiri, diingkarinya sektor pertanian dan diabaikannya pembangunan pedesaan merupakan faktor utama dari kemiskinan dan urbanisasi itu. Jomo Kwame Sundaram menyebut pula, sebetulnya sekitar 200 juta penduduk bisa meningkat taraf hidupnya dan diangkat dari kemiskinan jika dilakukan program peningkatan produktivitas pertanian.
Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan di Asia Pasifik memang didorong oleh kenyataan bahwa ekonomi negara-negara di kawasan itu terpusat pada industri dan jasa di kota-kota. Sementara sektor pertanian yang menjadi andalan ekonomi pedesaan, jauh terbengkalai.
Masalahnya, sebagian besar kaum urban ini adalah tenaga tak terdidik, yang di perkotaan mengadu hidup sebagai buruh kasar, dengan penghasilan yang pas-pasan. Karenanya mereka hanya mampu tinggal di kawasan kumuh. Atau bahkan menciptakan kawasan-kawasan pemukiman kumuh yang baru, dengan berbagai permasalahannya. Kepala UNESCAP Pietro Gennari mengungkapkan:
"Kami mendapati, bahwa warga di kawasan kumuh meningkat dengan kecepatan sangat tinggi. Namun ini tidak diimbangi dengan peningkatan ketersediaan berbagai pelayanan dan kebutuhan dasar. Karenanya, penduduk yang tinggal di perkotaan makin lama justru makin mengalami permasalahan ketersediaan air bersih dan dan sanitasi."
Menurut laporan UNESCAP itu, dua dari tiap lima orang atau empat puluh persen penduduk kota tinggal di kawasan kumuh. Dan Indonesia berasama Cina dan Filipina adalah tiga negara yang mengalami anjloknya tingkat ketersediaan air bersih bagi warga kota. Tentu yang mengalami kelangkaan air bersih adalah kaum miskin kota.
Laporan tahun 2008 ini menandai program laporan Survey Sosial dan Ekonomi Asia Pasifik UNESCAP yang ke 60. Pertama kali laporan tahunan itu disusun pada tahun 1948.