Sebuah studi mengungkap, hampir separuh cadangan air di bumi terbentuk jauh sebelum matahari lahir. Air di sistem tata surya diyakini sudah ada di dalam awan molekuler yang melahirkan sistem tatasurya.
Iklan
Hingga separuh air di Bumi diyakini berusia lebih tua ketimbang sistem tata surya. Begitulah bunyi sebuah studi yang dipublikasikan oleh jurnal ilmiah, Science. Temuan tersebut memperkuat asumsi bahwa kehidupan di Bumi berawal dari tempat lain di Galaksi Bimasakti.
Ilmuwan menemukan, air yang memenuhi samudera di Bumi sebagian berasal dari ruang antarbintang, sebelum matahari terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun silam. Dengan menganalisa rasio Hidrogen dan Deuterium, atau juga dikenal sebagai Hidrogen berat, di dalam molekul air, ilmuwan mampu mengungkap dari mana air di bumi berasal.
Air dalam bentuk cair atau es yang berasal dari ruang antarbintang memiliki jumlah Deuterium lebih besar ketimbang Hidrogen, karena terebentuk dalam kondisi temperatur yang sangat rendah. "Sebagian air di bumi berasal dari sumber yang sangat dingin, yakni beberapa puluh derajad di bawah nol," kata Ted Bergin dari University of Michigan.
Sekitar 30 sampai 50 persen kandungan air di sistem tata surya diyakini telah ada sebagai awan molekuler yang kemudian membentuk matahari dan planet. Temuan tersebut juga mengindikasikan sebagian besar planet di sistem tata surya memiliki cadangan air serupa Bumi, kata para ilmuwan.
Berasal dari Tempat Lain
"Jika air dibawa dari ruang antarbintang dalam bentuk es ke dalam sistem tata surya kita, maka sangat mungkin semua cakram protoplanet di sekitar bintang memiliki kandungan jumlah es yang sama," kata Conel Alexander dari Carnegie Institution for Science di Washington.
"Tapi jika air di sistem tata surya muda terbentuk dari proses kimiawi yang terjadi selama proses kelahiran matahari, maka jumlah air di sistem tata surya bisa bervariasi, yang pastinya berdampak pada potensi kehidupan di sana."
Dalam penelitiannya ilmuwan mensimulasikan proses kimiawi di dalam cakram protoplanet. "Kami membiarkan elemen kimia berkembang selama satu juta tahun, yakni masa hidup cakram yang membentuk planet," kata Bergin.
Hasilnya proses kimia di dalam cakram cuma mampu memproduksi air berat secara sporadis. "Jika cakram protoplanet tidak memproduksi air yang kita miliki sekarang, maka air itu harusnya berasal dari tempat lain," ujarnya.
rzn/ab (afp,rtr)
Voyager 1 Berjejak di Ruang Antarbintang
1977 keduanya diluncurkan untuk menguak tabir sistem tata surya. Kini wahana nirawak NASA, Voyager 1 berjarak 18,6 milliar Kilometer dari Bumi dan memasuki ruang antarbintang
Foto: NASA/Hulton Archive/Getty Images
Keluar dari Sistem Tata Surya
Sejak akhir 2012, wahana nir-awak Voyager 1 sudah meninggalkan sistem tata surya dan terbang melalui ruang antarbintang. Voyager adalah obyek pertama buatan manusia yang melewati batas sistem tata surya. Selain itu ia juga obyek terjauh yang pernah dibuat oleh manusia.
Foto: picture-alliance/dpa
Dua Wahana Bersaudara
Memasuki musim gugur 1977, Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA meluncurkan dua wahana kembar ke luar angkasa, Voyager 1 dan 2. Awalnya kedua wahana itu cuma ditugaskan mengorbit dan meneliti Jupiter dan Saturnus yang saat itu masih berada di luar jangkauan observasi manusia.
Foto: REUTERS/NASA/JPL-Caltech
Rute Penerbangan
Setelah 18 bulan, kedua wahana mencapai Jupiter. Usai meneliti gas raksasa itu, Voyager 2 mengambil rute menuju planet-planet lain, sementara Voyager 1 dikirim menuju batas terluar sistem tata surya. Perjalanan ini cuma bisa dilakukan lantaran kedua wahana memanfaatkan konstelasi planet yang cuma muncul setiap 146 tahun.
Planet kuning
Voyager 1 mengirimkan gambar Jupiter ini pada 1 Januari 1979. Keseluruhan, Voyager 1 mangirimkan sebanyak 17.477 foto Jupiter dan empat bulan yang mengorbit padanya. Keberadaan cincin yang mengelilingi Jupiter baru pertamakali dibuktikan melalui foto ini.
Foto: picture-alliance/dpa/NASA
Gambar detail
Selain itu Voyager 1 juga mendokumentasikan arus pergerakan atmosfer pada permukaan Jupiter, seperti yang terlihat pada gambar ini. Setelah mengorbit Jupiter, Voyager 1 melesat dengan kecepatan 16 kilometer per detik dengan memanfaatkan gaya gravitasi dari planet gas tersebut.
Foto: picture-alliance/dpa/NASA
Api belum akan Padam
Wahana Voyager yang memiliki beratz 825 Kilogramm ini adalah salah satu pencapaian terbesar NASA sepanjang sejarah. Hingga hari ini kedua wahana masih mengirimkan informasi-informasi akurat dari luar angkasa. Kendati telah jauh melampaui perkiraan usia pakai, mesin Voyager 1 dan 2 diyakini baru akan padam pada 2025.
Foto: public domain
Ruang Kendali
Ruang kendali untuk misi Voyager berada di kampus California Institute of Technology di Pasadena. Gambar ini diambil pada tahun 1980. Dari sini para ilmuwan memantau pergerakan dan, sebisa mungkin, mengendalikan arah terbang kedua wahana tersebut.
Foto: NASA/Hulton Archive/Getty Images
Piringan Hitam untuk Allien
NASA memasang piringan emas ini pada badan wahana, untuk mengantisipasi jika kedua wahana bertemu dengan mahluk alien. Piringan digital ini merekam gambar manusia, binatang dan sejumlah lagu yang menjadi hit abad lalu. Jika mahluk luar angkasa itu tidak memiliki alat yang tepat, NASA juga menyediakan jarum dan buku panduan.
Foto: NASA/Hulton Archive/Getty Images
Mengungkap Tabir Saturnus
Gambar ini dikirimkan oleh Voyager 2: Saturnus dalam warna aslinya. Planet ke-enam di sistem tata surya ini disambangi oleh Voyager tahun 1981. Untuk sebuah foto luar angkasa, gambar ini layaknya fotografi makro di bumi, ia diambil dalam jarak 21 juta kilometer dari obyek - jarak yang sangat dekat di luar angkasa.
Foto: HO/AFP/Getty Images
Seni Luar Angkasa
Misi Voyager tidak cuma menjadi perhatian ilmuwan, tetapi juga seniman. Seorang perupa di Amerika Serikat melukis wahana Voyager 1 ketika mengorbit Saturnus. Lukisan itu dibuatnya tahun 1977, sesaat menjelang peluncuran.