Otoritas pengawas Vatikan menjatuhkan sanksi paling berat terhadap kelompok Katolik ultratradisionalis. Langkah ini diambil setelah kelompok Serikat Santo Pius X, mengonsekrasikan uskup-uskup tanpa persetujuan Sri Paus.
Upacara konsekrasi (SSPX pada hari Rabu (01/07) itu bertentangan dengan keinginan Paus.Foto: Fabrice Coffrini/AFP
Iklan
Vatikan pada hari Kamis (02/07) menjatuhkan hukuman paling berat berdasarkan hukum kanonik Gereja Katolik terhadap sebuah kelompok yang memisahkan diri, setelah kelompok tersebut mengonsekrasikan empat uskup yang dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap Sri Paus.
Kongregasi untuk Doktrin Iman, otoritas pengawas Gereja Katolik, mengumumkan bahwa keempat uskup yang baru dikonsekrasikan atau ditahbiskan tersebut, serta dua uskup lainnya, akan dikeluarkan dari Gereja atau diekskomunikasi. (Ed: Ekskomunikasi bisa disederhanakan sebagai bentuk dikucilkan dari persekutuan Gereja Katolik).
Lembaga itu juga memperingatkan bahwa umat beriman yang "secara resmi berafiliasi" dengan kelompok tersebut, yaitu Serikat Santo Pius X (SSPX), juga dianggap "skismatik" dan karena itu turut diekskomunikasi. (Ed: Skisma adalah pemisahan diri yang disengaja dari persatuan dan otoritas kepemimpinan Gereja Katolik universal.)
Istilah skisma menunjukkan perpecahan resmi yang serius di dalam komunitas Katolik, sedangkan ekskomunikasi membuat seseorang tidak dapat menerima sakramen-sakramen, tidak dapat menikah menurut tata cara Katolik, tidak dapat memegang jabatan gerejawi, serta kehilangan berbagai hak gerejawi lainnya.
Langkah-langkah tersebut membatalkan berbagai konsesi yang sebelumnya diberikan Vatikan untuk membawa kelompok itu—yang selama bertahun-tahun memiliki hubungan yang tegang dengan Roma—kembali ke dalam lingkup resmi Gereja Katolik.
Ini Warisan Paus Fransiskus
01:08
This browser does not support the video element.
Apa yang dilakukan SSPX?
Pada hari Rabu (01/07), SSPX menahbiskan empat uskup dalam sebuah upacara yang dihadiri sekitar 15.500 orang beserta anak-anak mereka di dekat seminari kelompok tersebut di Écône, Swiss, meskipun sebelumnya telah diminta oleh Paus Leo XIV untuk tidak melakukannya.
Iklan
Menurut aturan ketat Gereja Katolik, hanya Sri Paus yang berwenang memberikan izin untuk konsekrasi uskup baru, dan siapa pun yang melakukannya tanpa izin tersebut dianggap telah melakukan "tindakan skismatik."
Dekret yang dikeluarkan pada hari Kamis (03/04) menyatakan bahwa dua uskup yang memimpin penahbisan tanpa izin tersebut, bersama empat imam yang kemudian menjadi uskup baru, semuanya telah diekskomunikasi sehingga kehilangan seluruh jabatan dan gelar kehormatan gerejawi mereka.
Dalam langkah yang bahkan lebih berat, dekret itu menyatakan bahwa mereka, serta semua pengikut resmi kelompok tersebut, berada dalam keadaan skisma dengan Gereja Katolik.
12 tahun menjadi pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Fransiskus dalam perjalanan hidupnya giat menyerukan pesan-pesan perdamaian, inklusi, perlindungan linkungan, dan keadilan ekonomi.
Foto: Evandro Inetti/dpa/ZUMA/picture alliance
Pemimpin 'gereja untuk kaum miskin'
Menyusul pengunduran diri Paus Benedict XVI, Kardinal Argentina, Jorge Mario Bergoglio, terpilih sebagai paus ke-266 pada bulan Maret 2013. Dia mengambil nama Fransiskus untuk meneladani Santo Fransiskus dari Asisi, yang begitu peduli terhadap orang miskin, rendah hati, dan merawat ciptaan. Sejalan dengan hal tersebut, Paus Fransiskus giat menyerukan “gereja untuk kaum miskin.”
Foto: Natacha Pisarenko/AP Photo/picture alliance
"Kami berharap dunia melihat tragedi kemanusiaan ini"
Dalam menjalankan tugas kepausannya Paus Fransiskus begitu memperhatikan nasib para pengungsi. Di tengah krisis migran yang terjadi pada tahun 2016, Paus mengunjungi kamp pengungsian Moria yang begitu padat di Pulau Lesbos, Yunani. Disana dia menyerukan agar dunia 'merespons secara manusiawi', ia lalu membawa serta 12 pengungsi muslim ke Roma dalam pesawat kenegaraannya.
Foto: Andreas Solaro/AFP/Getty Images
Menjaga Lingkungan
Dalam Ensiklik Paus Fransiskus di tahun 2015 yang berjudul “Laudato Si” (“Terpujilah Tuhan”), ia mengecam sistem kapitalisme global yang telah mengeksploitasi kaum miskin dan menghancurkan lingkungan. Selama masa kepausannya, Paus Fransiskus memperjuangkan pemeliharaan lingkungan mencegah krisis iklim. Dia membawa pesan ini ke seluruh penjuru, seperti pada foto di Papua Nugini tahun 2024 ini.
Foto: Gregorio Borgia/AP/dpa/picture alliance
Menjebatani Perbedaan
Tahun 2021, Fransiskus menjadi Paus pertama mengunjungi Irak, menghadapi banyak kekhawatiran perihal keamanan di negara tersebut. Di tengah reruntuhan gereja-gereja yang hancur, ia berdoa untuk para korban perang di Mosul, yang pernah menjadi ibu kota de facto dari apa yang disebut “Negara Islam”. Kunjungan ini adalah upaya Paus Fransiskus menjembatani kesenjangan umat Kristen, dan non-Kristen.
Foto: Andrew Medichini/AP/picture alliance
Permohonan maaf atas kebijakan sekolah katolik yang mengintimidasi
Pada tahun 2022, Paus Fransiskus menemui delegasi masyarakat adat Kanada Selatan, suku bangsa Inuit, dan Metis lalu meminta maaf atas pelecehan, kekerasan, dan penghilangan budaya secara sistematis yang dilakukan oleh para misionaris gereja katolik di sekolah-sekolah asrama Kanada.
Foto: Nathan Denette/The Canadian Press/AP/dpa/picture alliance
Pemuka agama di sampul majalah musik rok
Fransiskus menunjuk sejumlah kardinal dalam misi reformasi gereja. Ia bahkan sempat terlihat di sampul majalah rok “Rolling Stone” sebagai pelopor perubahan. Namun, dalam misi ambisiusnya, ia belum sepenuhnya berhasil terutama dalam hal melindungi korban dan penyintas pelecehan seksual anak di Gereja, atau merintis jalan bagi para pastor perempuan.
Foto: picture alliance/dpa/ROLLING STONE
Langkah-langkah kecil untuk diterima
Sosok Paus Fransiskus yang seperti musisi rok tentu menarik perhatian, sama halnya saat ia mengunjungi negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia, pada tahun 2024. Sebagai salah satu upaya menjembatani Gereja yang lebih inklusif, Paus menyoroti komunitas LGBTQ+ dan menyerukan perlakuan yang setara sebagai manusia, namun ia belum mendukung pemberkatan untuk pernikahan sesama jenis.
Foto: Indonesia Papal Visit Committee
Pemberkatan kepada Kota dan Dunia yang terakhir
Di usia 88 tahun, kurang dari sebulan setelah berjuang melawan pneumonia ganda, Paus Fransiskus meninggal dunia pada 21 April 2025 karena strok. Satu hari sebelum wafat, ia menyampaikan pemberkatan terakhir Urbi et Orbi (“Kepada kota dan dunia”) di akhir Misa Paskah hari Minggu. Konklaf kepausan akan berkumpul di Kapel Sistina untuk menentukan penggantinya dalam 15 hingga 20 hari kedepan.
SSPX didirikan pada tahun 1970 oleh Uskup Agung Prancis Marcel Lefebvre bersama sejumlah umat Katolik lainnya yang menentang reformasi-reformasi yang diperkenalkan oleh Konsili Vatikan Kedua pada dekade 1960-an.
Reformasi-reformasi tersebut mencakup diperbolehkannya penyelenggaraan misa dalam bahasa-bahasa selain bahasa Latin serta pengembangan hubungan dengan denominasi-denominasi Kristen lainnya dan agama-agama lain, yang dikenal dengan istilah ekumenisme.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris