Vegetarianisme di India: Pilihan Pribadi atau Kasta Sosial?
19 September 2025
Selama satu dekade terakhir, perdebatan tentang apa yang dimakan orang di India makin ramai diperbincangkan.
Sejak Narendra Modi menjadi perdana menteri pada 2014 silam, berbagai kebijakan yang membatasi konsumsi daging mulai diberlakukan, terutama di negara bagian berbahasa Hindi di India utara. Di beberapa wilayah, pemerintah di daerah sempat mengeluarkan aturan yang melarang atau membatasi makanan berbahan dasar daging baik di sekolah, dekat tempat ibadah, maupun saat perayaan keagamaan.
Di Distrik Doda, wilayah Kashmir yang dikelola India, pihak berwenang baru-baru ini melarang daging, makanan laut, dan telur di semua institusi pendidikan. Mereka berdalih, kebijakan ini penting untuk menjaga prinsip sekuler, harmoni sosial, dan menghindari ketidaknyamanan akibat perbedaan pola makan.
Kebijakan ini menuai kritik dan memunculkan kekhawatiran soal kebebasan individu, inklusivitas, dan sensitivitas agama.
Di berbagai kota di India, pembatasan makanan seperti ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Abheepsita Purkayastha, seorang pengacara korporat di Mumbai, mengaku kesulitan mencari tempat tinggal karena pola makannya.
“Waktu pindah ke Mumbai, mencari rumah jadi tantangan besar. Syaratnya satu, harus vegetarian! Begitu tahu kami makan daging, para pemilik rumah langsung menolak,” ujarnya kepada DW. “Akhirnya kami tinggal di apartemen, tapi tetangga meminta kami berhenti makan ayam. Selama dua tahun, kami sembunyikan makanan ayam, selalu waspada terhadap mata-mata tetangga.”
Menghapus makanan sama dengan menghapus identitas?
Nabanipa Bhattacharjee, seorang dosen universitas di New Delhi, mengenang kejadian saat tetangganya meminta jendela rumahnya ditutup karena aroma masakannya.
“Dia tidak pernah menyebut nama makanannya, hanya menyebutnya ‘tak bernama’. Para vegetarian tak pernah diminta menutup jendela, makanan mereka dianggap sebagai norma. Saya? Saya dianggap menyimpang dan harus berubah.”
Pengalaman ini memunculkan pertanyaan, mengapa pola makan berbasis daging sering dipandang negatif oleh sebagian masyarakat India, hingga membuat para pemakannya merasa terasing?
Bhattacharjee menjelaskan bahwa vegetarianisme di India sangat terkait dengan identitas budaya Hindu dan kebanggaan nasional, yang turut membentuk norma sosial.
Ternyata 80% orang India makan daging
Kelompok nasionalis Hindu aktif mempromosikan vegetarianisme sebagai simbol nilai-nilai tradisional Hindu, sering kali mengabaikan keragaman pola makan di India bahkan di dalam komunitas Hindu sendiri.
Mereka kerap mengaitkan konsumsi daging dengan kelompok minoritas agama dan masyarakat terpinggirkan, seperti Islam, Kristen, Adivasi (komunitas adat), dan Dalit, kelompok yang secara historis berada di lapisan terbawah dalam sistem kasta India.
Pembatasan terhadap konsumsi daging ini berujung pada stigma dan segregasi berdasarkan agama dan kasta, yang memperkuat batas-batas sosial.
“Di India, makan daging, terutama daging sapi, masih distigmatisasi dan dikaitkan dengan Dalit dan Adivasi, yang mengandalkannya sebagai sumber gizi terjangkau. Ini memperkuat hierarki kasta dan eksklusi sosial,” ujar Kiranmayi Bhushi, penulis buku The Culture and Politics of Food in Contemporary India, kepada DW.
Kenyataannya banyak umat Hindu, yang merupakan mayoritas sekitar 80% dari populasi India, juga mengonsumsi daging, meskipun pola makan mereka berbeda-beda tergantung wilayah dan kasta.
Di negara bagian berbahasa Hindi di India utara, vegetarianisme lebih dominan. Sementara di wilayah selatan dan timur laut India, mayoritas penduduknya justru pemakan daging.
Banyak masyarakat Dalit dan komunitas adat di India mengonsumsi daging secara rutin, sementara vegetarianisme masih dominan di kalangan Hindu kasta atas. Bahkan, di antara kasta atas, hanya sebagian kecil yang benar-benar vegetarian. Banyak dari mereka tetap mengonsumsi jenis daging tertentu.
Secara keseluruhan, sekitar 40% orang dewasa India mengaku sebagai vegetarian, menurut survei Pew Research Center tahun 2021.
Namun, data dari Survei Kesehatan Keluarga Nasional (NFHS) di tahun yang sama menunjukkan bahwa 80% warga India berusia 15-49 tahun mengonsumsi daging dalam berbagai bentuk. Angka ini bertentangan dengan anggapan umum bahwa India adalah negara vegetarian.
Makanan, kesucian, dan hierarki sosial di India
Para peneliti telah lama menelusuri hubungan antara sistem kasta India dan kebiasaan makan yang berakar pada konsep “kesucian” dan “kenajisan.” Studi-studi ini menunjukkan bahwa pola makan berperan penting dalam pembentukan sistem kasta dan struktur sosial.
Kiranmayi Bhushi menjelaskan bahwa citra India sebagai negara vegetarian banyak dipengaruhi oleh norma makan Hindu kasta atas, terutama Brahmin dan Baniya, yang secara historis memilih pola makan vegetarian sebagai simbol kesucian ritual dan status sosial.
Namun, menurutnya, kenyataan di lapangan jauh lebih beragam.
Bahkan, di kalangan Brahmin pun terdapat perbedaan. Contohnya, banyak Brahmin di negara bagian Bengal Barat yang mengonsumsi ikan.
Sementara itu, ahli bahasa Sanskerta Punita Sharma berpendapat bahwa pilihan makanan lebih banyak dipengaruhi oleh iklim dan geografi, yang menentukan ketersediaan bahan pangan.
“Di India, pola makan tradisional berkembang berdasarkan sumber daya alam dan musim, mencerminkan hubungan erat antara lingkungan dan kebiasaan makan,” ujarnya.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Urbanisasi mengubah pola makan
Dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan makan di India mulai berubah, seiring semakin banyak anak muda pindah ke kota besar demi kehidupan yang lebih baik. Mereka kini mengonsumsi beragam jenis makanan, termasuk daging.
“Perubahan ini didorong oleh urbanisasi dan meningkatnya pendapatan, yang membuat pola makan masyarakat makin beragam, melampaui norma vegetarian yang selama ini dominan,” jelas Kiranmayi Bhushi.
Tren baru juga terbentuk di antara pemuda perkotaan, yang makin merangkul veganisme.
Bagi banyak orang, termasuk Ujjal Chakraborty yang berusia 24 tahun, veganisme bukan sekadar gaya hidup, tapi juga bentuk pernyataan terhadap akar kasta dalam tradisi vegetarian.
“Veganisme di India masih baru dan sering disalahartikan sebagai vegetarianisme yang berakar pada kasta. Padahal, veganisme lebih soal tanggung jawab lingkungan, bukan identitas kasta,” ujarnya.
Chakraborty menyebut para influencer dan aktivis media sosial berperan besar dalam menjadikan veganisme sebagai pilihan etis yang menantang norma vegetarian berbasis kasta.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Pratama Indra
Editor: Hani Anggraini