Dua pemuda Oxford, Inggris, lewat tayangan video slow motion menunjukkan bagaimana satu penjepit perangkap tikus bekerja… bukan untuk menangkap tikus, tapi menjepit lidah!
Foto: Africa Studio - Fotolia
Iklan
Video karya Slo Mo Guys ini direkam dengan kecepatan 2.000 frame per detik. Gavin Free dan Daniel Gruchy, tokoh kanal YouTube dengan lebih dari 7 juta subscriber, melakukan aksi mereka atas “tuntutan” para fans mereka.
Pada awal video, tampak keduanya sedikit ragu, apakah mereka mau melakukan stunt ini atau tidak. Bahwa eksperimen ini kemungkinan akan mendatangkan rasa sakit semakin nyata setelah Daniel terlebih dahulu mencoba perangkap tikus itu pada kemasan plastik. Namun rekannya, Gavin, menyemangati dia dengan mengatakan bahwa lidah tidak terbuat dari plastik, dan bahwa lidah merupakan salah satu otot terkuat yang dimiliki tubuh manusia.
Perlu waktu sekitar satu setengah menit bagi Daniel untuk mengumpulkan keberanian melakukan aksi ini. Keraguan masih menguasai Daniel saat ia mencoba menyentuh perangkap tikus dengan lidahnya. Empat kali Daniel gagal mencoba menyentuh kait logam pemicu jebakan tikus.
Teriakan kesakitan terdengar ketika Daniel akhirnya berhasil melakukan aksi ini. Melihat aksi ini sudah menimbulkan sedikit rasa ngilu. Dan perasaan ngilu bertambah saat melihat tayangan lambat aksi ini.
Tikus Pelacak Ranjau
Dalam perang melawan ranjau darat, para petugas pelacak ranjau melatih tikus sebagai pengendus bahan peledak yang banyak memakan korban warga sipil tak berdosa.
Foto: Lieve Blancquaert
Pahlawan Tikus
NGO Belgia APOPO di Morogoro Tanzania melatih sejenis tikus besar Afrika untuk melacak ranjau. Tikus memiliki indera penciuman amat tajam, dan hidungnya yang dekat tanah, diharapkan jauh mengungguli anjing pengendus ranjau. Selain itu, bobotnya yang hanya satu kilogram terlalu ringan untuk memicu ledakan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Hidung Pengendus Harus Dilatih
Tikus-tikus dilatih sejak kecil, untuk melacak jejak bahan peledak TNT. APOPO sejak 2000 melatih hewan pengerat itu di Kampus Universitas Sokoine untuk Ekonomi Pertanian di Tanzania. Tikus pertama pelacak ranjau dikerahkan 2006 untuk pembersihan ranjau di Mozambik. Sebelum diizinkan bertugas, tikus-tikus pelacak harus lulus ujian untuk memenuhi standar internasional pembersihan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Pelacakan Sistematis
Tikus-tikus belajar melacak areal secara sistematis. Untuk itu tikus diikat pada poros galah dan dua pelatih berdiri di kedua ujungnya. Tikus bekerja pada garis lurus, dari satu ujung ke ujung lainnya. Pada fase latihan, tikus mula-mula dilatih mengendus TNT murni dalam wadah kecil dari logam.
Foto: DW/A. Schmidt
Melacak Ranjau Dalam Tanah
Setelah itu, tikus dilatih di sebuah lapangan, dimana ranjau sebenarnya yang sumbu peledaknya di non-aktifkan ditanam dalam tanah. Jika tikus mengendus TNT, hewan ini akan menunjukkan lokasinya dengan mencakar-cakar tanah. Pelatihan tikus pelacak ranjau berlangsung sekitar setahun dan ongkosnya 6.000 Dollar.
Foto: APOPO
Sukses Diganjar Hadiah
Dalam pelatihan setiap sukses pelacakan, tikus akan diganjar hadiah, misalnya dengan sepotong pisang. Tikus terlatih bisa melakukan pelacakan areal hingga 400 meter persegi per hari. Sebagai perbandingan, petugas pencari ranjau memerlukan waktu dua minggu untuk melacak areal seluas itu.
Foto: DW/A. Schmidt
Hidung Pengendus Fleksibel
Tikus berbeda dengan anjing, karena tidak terikat pada satu orang pelatih saja. Artinya, pelatih tidak perlu turun sendiri ke lapangan, dan tikus tetap bekerja handal. Dengan itu, tikus-tikus yang dilatih di Tanzania dapat dikirimkan ke Mozambik, Angola, Thailand atau Kamboja untuk tugas pembersihan ranjau.
Foto: Lieve Blancquaert
Misi di Mozambik
Sejauh ini tim pembersih ranjau di Mozambik sudah memeriksa lebih dari 6,5 juta meter persegi areal dan menemukan lebih dari 2000 ranjau darat, 1000 bom yang tidak meledak dan 12.000 senjata api serta amunisinya, yang semuanya dimusnahkan. Saat ini tujuh tim dengan 54 tikus pelacak ranjau yang bertugas dalam misi ini.