1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Eropa Lacak Kehidupan di Planet Mars

1 Juni 2018

Lembaga ruang angkasa Eropa-ESA luncurkan misi ExoMars untuk lacak jejak kehidupan di planet merah itu. Keberadaan gas Methana di atmosfirnya memicu dugaan adanya aktivitas mikrobiologi di dalam tanah Mars.

ExoMars - Illustration Landung des Moduls Schiaparelli auf dem Mars
Foto: picture alliance/dpa/ESA

Eropa Kirim Wahana Antariksa Lacak Kehidupan di Planet Mars

01:14

This browser does not support the video element.

Misi melacak kemungkinan adanya kehidupan di Planet Mars diawali dengan peluncuran wahana pengorbit Trace Gas Orbiter (TGO) pada tahun 2016. Orbiter bertugas "mengendus" keberadaan gas Methana di atmosfir planet merah itu.

Para ilmuwan dan peneliti di ruang pengendali misi di Darmstadt, Jerman terus melakukan penyesuaian ketinggian orbit TGO. Saat ini wahana pengorbit dalam misi ExoMars itu sudah berada di ketinggian 400 kilometer di atmosfir Mars dan siap melakukan penelitian.

Meneliti eksistensi gas Methana di atmofir Planet Mars bisa menjadi kunci, untuk membuktikan keberadaan kehidupan dalam tatanan mikrobiologis. "Kita tahu bahwa siklus hidup gas methana tergolong pendek, hanya ratusan tahun. Gas akan terurai akibat pancaran Ultra Violet yang bagian dari radiasi Matahari, ujar Hakan Svedhem, ilmuwan proyek TGO.

"Tapi kami juga membuktikan, bahwa gas Methana di atmosfer planet Mars terus diisi ulang secara kontinyu. Dari mana asal gas itu? Ini pertanyaan besarnya", ujar ilmuwan dari ESA itu. Diharap spektrometer di wahana orbiter TGO bisa menganalisa, apakah gas methana ini berasal dari sumber geologi non organik atau dari sumber biologis.

Mengebor bakteri di kedalaman tanah Mars

Misi penelitian Mars dilanjutkan dengan rencana peluncuran Rover ExoMars pada tahun 2020 dan pendaratan tahun 2021. Rover dilengkapi mesin bor yang akan melacak hingga kedalaman dua meter tanah mars, untuk mencari bukti adanya kehidupan.

Bukti mengenai keberadaan gas methana di Atmosfir Mars yang permukaannya kering kerontang itu pertama disuplai oleh rover milik NASA, Curiosity. Membandingkan dengan kondisi di Bumi, para ilmuwan mengatakan, di planet habitat manusia, gas methana berasal dari dua sumber, biologis dan geologis. Sementara di Mars sumbernya belum jelas.

Kini para periset ESA mengharapkan dapat melacak lebih akurat lagi. Berbagai data dan informasi yang dikumpulkan dalam misi ExoMars, akan jadi basis sangat berharga untuk rencana pendaratan manusia di planet Mars.

"Impian kami, suatu hari nanti, manusia bisa berjalan di permukaan planet merah itu", ujar Svedhem. Yang lebih istimewa lagi, jika kita juga tahu, bahwa Ada Kehidupan di Planet Mars, mungkin di bawah tanah pada kedalaman tertentu. Dengan itu Mars akan jadi tempat yang sangat spesial.

as/yf (aptn)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait