1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

240709 Qodscha Porträt

24 Juli 2009

Setelah lima tahun memangku jabatan walikota di Erbil di utara Irak, Nihad Qodscha, seorang warga Kurdi kembali lagi ke Jerman. Nihad mau mengosongkan kursi jabatannya bagi penerusnya.

Erbil
Kota Erbil, diantara rumah-rumah tua kini telah berdiri pusat perbelanjaan modernFoto: picture-alliance/dpa

Bulan Juli 1981 Nihad Qodscha harus lari meninggalkan negerinya. Akibat kemelut perang Irak-Iran situasi di wilayah Kurdi terlalu berbahaya. Guru olahraga ini tiba di Bonn dan mendapat suaka politik. Dia bekerja sebagai pelayan bar, sopir taksi dan penerjemah. Dia hidup bersama keluarganya di Jerman. Namun setelah 23 tahun di Jerman, dia kembali lagi ke tanah airnya dan dipilih sebagai walikota Erbil, ibukota provinsi otonomi Kurdi di Irak.

"Saya punya dua tanah air, saya mengerti keduanya. Saya berharap bisa menjembatani keduanya. Dengan dukungan teman-teman saya di Jerman, di sini pun saya berhasil meraih sukses", demikian ungkap Qodscha.

Kembalinya Nihad ke Erbil memang menjadi berkat. Wilayah di utara Irak yang sejak awal tahun 90-an mandiri dari pemerintahan pusat di Bagdad ini, kini lebih aman dan jauh lebih maju ketimbang wilayah-wilayah lainnya. Jalan-jalan, perumahan, sekolah, sarana pengolahan sampah, listrik dan kanalisasi dibangun dalam 5 tahun masa jabatan walikota yang disegani ini. Pada awalnya semuanya tidak gampang, cerita Nihad:

"Saya berusaha membangun kepercayaan warga. Ini sungguh tidak mudah bagi seseorang yang sudah begitu lama tinggal di luar negeri. Saya coba menyesuaikan diri dengan tidak melepaskan asal-usul saya. Dengan itu saya kembali diterima dalam masyarakat, bisa hidup bersama mereka, menggagas ide-ide baru dan bersama-sama memikirkan langkah demi peningkatan kesejahteraan di sini."

Mengingat pemilihan parlemen regional dan presiden di wilayah otonomi Kurdi sudah di depan mata, tiba saatnya bagi Nihad untuk mengosongkan kursi jabatannya.

"Lima tahun saya habiskan di sini. Saya pikir, itu sudah cukup. Kursi jabatan harus dikosongkan untuk orang berikutnya. Lima tahun saya menjabat posisi ini dan setelah lima tahun dipilih orang baru yang lebih baik. Warga harus melihat bahwa saya bersedia turun dari kursi jabatan supaya orang berikutnya bisa naik."

Namun keputusannya untuk meninggalkan panggung politik di Kurdistan dan kembali ke Bonn sebenarnya lebih didorong oleh alasan pribadi ketimbang alasan politis.

"Kedua anak saya sekolah di Bonn. Saya tak ingin mereka dipisahkan dari konteks hidup di sana. Musim panas mereka datang mengunjungi kakek dan neneknya dan mereka pun senang. Saya ingin berkumpul kembali bersama keluarga. Saya rindu pada istri dan kedua anak saya. Dan saya pun sudah rindu kembali ke Jerman, rindu bertemu teman-teman saya di sana."

Bagi sang penerusnya dia menitipkan pesan yang sangat penting: "Untuk jabatan ini, pintu harus selalu tetap dibiarkan terbuka bagi warga. Ini sangat penting. Kedua, dia harus berkonsentrasi pada tugas. Semua urusan pribadi harus dikesampingkan. Dia harus berjuang memberantas korupsi yang amat merugikan di sini. Juga harus ada keberanian untuk mengambil keputusan. Memang ini kadang menyakitkan, namun kalau benar, keputusan itu harus diambil dengan besar hati."

Hal itu pun memang sangat perlu. Praktek nepotisme, proses pemberian izin yang berbelit-belit dan ketimpangan demokrasi meredam laju pertumbuhan wilayah paling maju di Irak ini. Karena alasan ini Nihad Qodscha, lelaki Kurdi yang memiliki kapasitas made in Germany ini, tetap mau merajut ikatan dengan negeri asalnya.

"Di masa mendatang saya pun bisa memainkan peranan penting antara Jerman dan Kurdi. Tentu saja saya harus bolak-balik antara kedua negara."

Ulrich Leidholdt/Samuel Limahekin
Editor: Ziphora Robina