Empat warga Pulau Pari, Indonesia, berhasil melewati tahap penting dalam kasus mereka melawan salah satu produsen semen terbesar dunia terkait perubahan iklim.
Aktivis berharap kasus di Swiss ini dapat menyoroti peran industri semen dalam kenaikan permukaan lautFoto: Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images
Iklan
Pengadilan Zug di Swiss akan mendengar gugatan kasus iklim terhadap raksasa semen Holcim setelah menerima pengaduan yang diajukan oleh empat warga pulau Pari, Indonesia. Pulau Pari menjadi salah satu gugusan pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta yang terdampak krisis iklim.
Warga mengatakan kenaikan permukaan laut telah menelan rumah mereka dan menuduh Holcim gagal mengurangi emisi karbon.
Pengadilan Tingkat Kanton atau negara bagian ini menerima pengaduan tersebut secara penuh. Hal ini menandai pertama kalinya litigasi iklim terhadap perusahaan akan dilanjutkan di Swiss, menurut Swiss Church Aid (HEKS/EPER), salah satu LSM yang membantu warga pulau Pari.
Kasus ini diajukan pada 2023 oleh empat warga Pulau Pari, yakni Asmania, Arif, Edi, dan Bobby, ke pengadilan di Zug, tempat Holcim berkantor pusat. Kenaikan air yang terkait dengan krisis iklim dapat menenggelamkan sebagian besar pulau tersebut pada 2050. Pulau Pari hanya berada 1,5 meter (5 kaki) di atas permukaan laut.
Iklan
Para penggugat, yang didukung oleh LSM internasional termasuk Swiss Church Aid (HEKS/EPER), European Center for Constitutional and Human Rights, dan Indonesian Forum for Living Environment (WALHI), mengatakan Holcim adalah salah satu penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Mereka menuntut pemotongan emisi CO2 secara cepat, 43% pada 2030 dan 69% pada 2040, serta kompensasi atas kerusakan dan pendanaan untuk perlindungan banjir.
Asmania mengatakan dia dan penggugat lainnya “sangat senang” dengan keputusan pengadilan.
“Keputusan ini memberi kami kekuatan untuk melanjutkan perjuangan kami,” katanya. “Ini berita baik bagi kami dan keluarga kami.”
Warga Pulau Pari Gugat Raksasa Semen Eropa di Swiss
Warga Pulau Pari gugat pabrik semen Holcim yang dituding bertanggung jawab atas perubahan iklim di pengadilan Swiss. Dampak naiknya muka air laut, mengancam tenggelamnya pulau di utara Jakarta itu dalam waktu 30 tahun.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
Banjir rob makin sering terjadi
Pulau Pari seluas 42 hektare di utara Jakarta, makin sering dilanda banjir rob akibat naiknya permukaan laut Jawa. Dampak perubahan iklim ditengarai jadi pemicunya. Warga menuding industri penghasil emisi CO2 terbanyak, seperti pabrik semen, minyak dan gas, serta industri batu bara, sebagai penyebab utama pemanasan global yang memicu perubahan iklim.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
Empat warga Pulau Pari menggugat Holcim
Ibarat David lawan Goliath, empat warga Pulau Pari (dari atas searah jarum jam) Edi Mulyono, Asmania, Arif Pujianto, dan Mustaghfirin menggugat perusahaan semen raksasa Swiss, Lafarge Holcim, di pengadilan Swiss. Didampingi WALHI selaku perwakilan hukum warga Pulau Pari di Indonesia dan Hilfswerk der Evangelischen Kirchen Schweiz (HEKS) selaku perwakilan hukum di Swiss.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW Jakarta
Diskusi warga tentukan gugatan
Warga Pulau Pari secara teratur melakukan musyawarah dan diskusi, dengan dipandu WALHI untuk mencari tahu sumber dan solusi atas persoalan yang tengah dihadapi. Warga memilih pabrik semen raksasa Holcim sebagai tergugat. Keputusan menyasar Holcim tak lepas dari rangkaian upaya jejaring aktivis lingkungan internasional dalam mengurangi emisi global yang diproduksi oleh industri ekstraktif.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
Rumah warga terancam tenggelam
Rumah warga harus ditinggikan akibat ancaman banjir rob yang datang makin sering. Ini makin membenani warga yang pendapatannya justru merosot. Juga air bersih makin sulit didapat, karena intrusi air laut mencemari sumur milik warga. Akibatnya, warga harus membeli air bersih dengan harga mahal, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
Pendapatan nelayan terus merosot
Nelayan Pulau Pari mengeluhkan hasil tangkapan mereka yang terus merosot. Dalam lima tahun terakhir, dampak perubahan iklim menyebabkan profesi nelayan makin sulit karena ikan makin jarang. Modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pendapatan dari hasil tangkapan, akibatnya makin banyak perahu kini menganggur.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
Menanam mangrove mencegah abrasi dan banjir rob
Warga Pulau Pari juga tidak tinggal diam. Mereka berusaha menahan dampak perubahan iklim dengan melakukan penanaman mangrove di sepanjang pesisir. Mereka berharap, hutan mangrove akan dapat mencegah abrasi garis pantai dan menahan dampak banjir rob.
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
Terus berjuang sampai mendapat keadilan
Warga menyatakan akan terus berjuang sampai mendapat keadilan, terkait dampak perubahan iklim. Para penggugat menyatakan, siap terbang ke Swiss untuk menghadiri sidang gugatan terhadap pabrik semen itu. Jubir Holcim menilai gugatan tidak tepat, karena pabrik terus bekomitmen lindungi iklim dengan melakukan pendekatan berbasis sains. (gm/th/as/ha)
Foto: Georg Matthes/Taris Hirziman/DW
7 foto1 | 7
Holcim berencana banding
Holcim, yang tidak lagi mengoperasikan pabrik semen di Indonesia sejak 2019, berencana untuk mengajukan banding atas keputusan pengadilan yang membolehkan kasus ini dilanjutkan. Perusahaan ini berulang kali menekankan komitmennya untuk mencapai net zero pada 2050, tetapi berpendapat bahwa legislator seharusnya menentukan bagaimana tujuan itu dicapai.
“Holcim tetap yakin bahwa ruang sidang bukan forum yang tepat untuk menangani tantangan global krisis iklim,” kata perusahaan itu.
Produksi semen menyumbang sekitar 7% dari emisi karbon dioksida (CO2) global, menurut Global Cement and Concrete Association.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid