1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Warga Israel Protes Pernikahan Yahudi-Muslim

18 Agustus 2014

Mereka berteriak "Matilah kaum Arab!": Ratusan simpatisan kelompok ultra konservatif berdemonstrasi menentang pernikahan seorang Arab muslim dan warga Yahudi. Kepolisian terpaksa turun tangan.

Israel Hochzeit zwischen Moslem und Jüdin 17.8.2014 Demonstration Kontra
Aksi protes yang digelar kelompok ultra konservatif Yahudi, Minggu (17/8), di Rischon le Zion, Tel Aviv.Foto: Reuters

Sejatinya hari Minggu (17/8) silam menjadi hari yang istimewa buat sebuah pasangan dari Jaffa, Israel. Namun apa daya, pesta pernikahan yang telah disiapkan berujung malapetaka.

Ratusan orang menyerbu gedung pernikahan di kawasan Rischon le Zion itu pada Minggu malam. Kelompok ultra konservatif itu berdemonstrasi menentang pernikahan antara seorang warga muslim Israel dan calon isterinya yang beralih dari Yahudi menjadi Islam.

Kepolisian menyatakan, pihaknya menahan belasan demonstran atas dugaan memprovokasi tindakan anarkis. Pasangan asal Jaffa itu sebelumnya sempat meminta pengadilan melarang aksi demonstrasi. Namun permohonan tersebut ditolak.

Gagal di Pengadilan

Sebaliknya dukungan buat pasangan pengantin datang dari kelompok kiri. Mereka membuat demonstrasi tandingan dan melangkan simpati.

Aksi protes terhadap pesta pernikahan di Rischon le Zion itu digelar atas prakarsa kelompok Yahudi konservatid, "Lehava". Lehava adalah sebuah akronim dalam bahasa Ibrani yang berarti "mencegah asimilasi di tanah suci."

Pengadilan Negeri di Rischon le Zion sebelumnya mengizinkan aksi demonstrasi dilaksanakan sekitar 200 meter dari gedung pesta. Menurut laporan media-media Israel, pasangan pengantin terpaksa menyewa 14 tenaga keamanan untuk melindungi para tamu yang datang.

Kecaman dari Pejabat Pemerintah

Presiden Israel Reuven Rivlin mengecam aksi demonstrasi tersebut. Dalam statusnya di laman Facebook, Rivlin menilai para demonstran telah melangkahi batasan antara kebebasan berpendapat dan seruan kebencian.

Terlepas dari pandangan pribadi terhadap pasangan campur itu, menurutnya kedua pengantin memiliki hak untuk menikah dan mendapat perlindungan dari konstitusi. Keputusan keduanya harus dihormati, tulis Rivlin.

Sang presiden juga menegaskan, negara tidak memberikan tempat untuk tindak kekerasan, seruan kebencian atau rasisme yang "bertentangan dengan dasar-dasar" masyarakat Yahudi demokratis. Rivlin juga mengucapkan selamat kepada pasangan asal Jaffa itu.

Sebaliknya para tamu yang datang mencoba bersikap santai. "Kami akan menari dan bergembira hingga matahari terbit. Kami menghidupi ko-eksistensi," kata salah seorang tamu. Termasuk yang diundang adalah Menteri Kesehatan Israel, Yael German.


rzn/ap (rtr,kna)

Pasangan Yahudi-Muslim, Mahmud Mansur (ka.) dan Maral Marlka (ki.). Keduanya harus menyewa tenaga keamanan untuk melindungi para tamu.Foto: Reuters