Data terbaru mengungkap penderitaan korban eksperimen medis paksa era Nazi. Bagaimana koleksi sampel dan temuan di masa lau yang kelam itu berpengaruh pada dunia medis dan riset modern?
Preparat dan hasil penelitian medis dari korban di era Nazi masih digunakan pada institusi riset berbahasa Jerman, beberapa dekade setelah 1945Foto: Monika Skolimowska/dpa/picture alliance
Iklan
Penelitian medis paksa dan eksperimen brutal adalah bagian paling kelam dari sejarah Nazi Jerman. Terutama bagi kelompok yang rentan terdiskriminasi seperti orang Yahudi, tawanan perang, etnis minoritas Sinti dan Roma, penyandang disabilitas, dan kelompok lainnya. Pengujian terhadap patogen, racun, dan obat-obatan dilakukan pada mereka.
Organ tubuh mereka diambil, tubuh mereka dibekukan, mereka disterilkan secara paksa, diseleksi, dan dibunuh. Puluhan ribu jadi korban eksperimen tidak manusiawi ini.
Kini, profil 16.000 korban terdata secara rinci pada bank data daring ns-medical-victim, 13.000 profil lainnya yang masih dalam proses penelitian. Ini adalah bank data pertama yang dikelola secara sistematis, menampilkan nama korban, riwayat kehidupannya, eksperimen yang diterapkan, hingga institusi yang terlibat. Kumpulan data ini diterbitkan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Leopoldina dan Max-Planck-Gesellschaft.
Max-Planck-Gesellschaft adalah penerus lembaga riset Kaiser-Wilhelm-Gesellschaft (KWG). KWG yang terlibat dalam penelitian ilmiah yang menggunakan preparat tubuh manusia hasil pembunuhan massal oleh rezim Nazi, KWG dibubarkan pada akhir perang dunia kedua.
Lebih dari 200 institusi di Jerman dan Eropa terlibat dalam kejahatan medis di era Nazi. Laporan tahun 2023 dari Komisi Lancet untuk Kedokteran, Nasionalisme Sosialis, dan Holocaust mengungkap, para dokter membenarkan tindakan kejam mereka dengan alasan rasis, dan secara masif melakukan sterilisasi paksa, program eutanasia, dan seleksi. Hanya sedikit dari para dokter tersebut yang diadili setelah perang.
Sebuah jalan di Augsburg yang sebelumnya dinamai dari seorang dokter Nazi kini diganti dengan nama dua anak yang dibunuh dalam program eutanasia.Foto: Ulf Vogler/dpa/picture alliance
Jejak Nazi di masa kini
Setelah perang, beberapa ilmuwan dan institusi melanjutkan pekerjaan mereka tanpa kendala. Tokoh-tokoh penting dari dunia medis Nazi dari KWG tetap bekerja di Jerman Barat pascaperang. Menurut pakar sejarah kedokteran, Prof. Dr. Herwig Czech dari Universitas Kedokteran Wina yang juga pendiri komisi Lancet, tokoh-tokoh tersebut bahkan turut serta dalam program medis luar angkasa NASA, berbekal keahlian yang diperoleh dari eksperimen di kamp konsentrasi.
Banyak data dari era Nazi diadopsi tanpa tanpa analisa kritis, karena konteks dan asal usul data seringkali disembunyikan. Data yang diperoleh dari percobaan pada tahanan Nazi, seperti toleransi terhadap dingin, pengobatan antibiotik sulfonamid, efek gas phosgen (gas beracun yang sering digunakan sebagai senjata kimia pada PD 1) dipublikasikan dalam jurnal medis, dan terus-menerus dikutip.
Napak Tilas Tumbangnya NAZI Jerman
Hitler menyerah tanpa syarat 8 Mei 1945, menandai berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Beragam monumen didirikan mengenang pembebasan Jerman dari rezim NAZI oleh pasukan Sekutu dan Uni Sovyet.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
Perang Campuh di Hutan Hürtgen
Pasukan AS bertempur sengit melawan angkatan perang Jerman di hutan Hürtgen dekat Aachen selama beberapa bulan, dari musim gugur 1944 hingga awal tahun 1945,. Ini merupakan pertempuran paling lama dan paling signifikan di kawasan Jerman. Hutan Hürtgen kini jadi bagian dari ‘‘Rute Kemerdekaan Eropa‘‘ yakni jejak peringatan gerak majunya Sekutu..
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Keajaiban di Remagen
Pasukan AS berhasil merebut jembatan di Remagen, di selatan Köln 7 Maret 1945. Dengan itu ribuan tentara AS dapat menyeberangi Sungai Rhein untuk pertama kalinya, yang populer disebut ‘‘Keajaiban di Remagen‘‘. Pemboman yang dilancarkan terus menerus oleh tentara Jerman, meruntuhkan jembatan 10 hari setelah direbut sekutu. Kini di puing jembatan berdiri museum perdamaian.
Foto: picture-alliance/dpa/Thomas Frey
Pemakaman Reichswald
AS biasanya mengirim pulang jenazah tentaranya yang tewas ke Amerika. Lain halnya dengan tentara Inggris yang gugur di medan perang, biasanya dimakamkan di Jerman. Terdapat 15 pemakaman dan yang terbesar adalah di Reichswald, dekat perbatasan Belanda. Di antara 7.654 tentara yang tewas, 4.000 di antaranya adalah pilot dan awak pesawat tempur yang banyak berasal dari Kanada.
Foto: Gemeinfrei/DennisPeeters
Monumen Seelow Heights
Tentara Merah Uni Soviet melancarkan gempuran pamungkas di bagian timur Jerman 16 April 1945. Petempuran Seelow Heights diawali dengan bombardemen dini hari untuk mendukung serbuan ke Berlin. Sekitar 900.000 tentara Soviet bertempur melawan 90.000 tentara Jerman. Pertempuran terbesar di Jerman saat Perang Dunia II yang menewaskan ribuan orang, dikenang dengan monumen di lokasi.
Foto: picture-alliance/dpa/Patrick Pleul
Peringatan Hari Elbe di Torgau
Pasukan Uni Soviet dan AS bertemu untuk pertama kalinya di Sungai Elbe di Torgau 25 April 1945. Peristiwa ini menutup celah front Timur dan Barat. Akhir perang sudah di depan mata, dan jabat tangan tentara dari kedua belah pihak di Torgaui jadi foto ikonik. Pertemuan tentara Sekutu dan Soviet di Sachsen ini setiap tahun diperingati sebagai hari Elbe.
Foto: picture-alliance/dpa/H. Schmidt
Musium Jerman-Rusia di Berlin-Karlshorst
Angkatan bersenjata Jerman tandatangani pernyataan takluk tanpa syarat 8 Mei 1945 malam di mess perwira Berlin-Karlhorst. Kini naskah pernyataan takluk asli yang ditulis dalam bahasa Inggris, Jerman dan Rusia, jadi fitur utama di ruangan utama museum itu. Pameran permanen lainnya di museum berfokus pada perang pemusnahan Nazi Jerman terhadap Uni Soviet yang dimulai tahun 1941.
Foto: picture-alliance/ZB
Monumen Peringatan Perang di Treptow
Monumen di Treptow sangat besar dan impresif. Monumen beserta pemakaman tentara ini berada di atas area seluas 100.000 m2. Dibangun setelah Perang Dunia II untuk memperingati Tentara Merah Uni Soviet yang tewas dalam pertempuran di Berlin. Pintu masuk ke monumen dibangun menyerupai bendera Uni Soviet, dibuat dari batu granit berwarna merah.
Foto: picture-alliance/ZB/Matthias Tödt
Istana Cecilienhof di Potsdam
Setelah Nazi menyerah, ketiga kepala pemerintahan terpenting Sekutu bertemu di Istana Cecilienhof di Potsdam pada musim panas 1945. Joseph Stalin, Harry S. Truman dan Winston Churchill memimpin delegasi dalam Konferensi Potsdam, untuk membangun tatanan pasca Perang Dunia II di Eropa. Keputusan konferensi membagi Jerman menjadi empat zona pendudukan
Foto: picture-alliance/dpa/Ralf Hirschberger
Museum Sekutu
Berlin juga dibagi jadi 4 sektor. Distrik Zehlendorf jadi sektor Amerika. Bekas gedung bioskop ‘‘Outpost‘‘ milik militer AS kini jadi bagian dari Museum Sekutu yang mendokumentasikan sejarah politik dan komitmen militer Sekutu Barat di Berlin, detail pendudukan Berlin Barat di tahun 1945, pengiriman bantuan melalui udara ke Berlin Barat dan penarikan pasukan AS pada tahun 1994.
Foto: AlliiertenMuseum/Chodan
Istana Schönhausen di Berlin
Istana Barok Prusia ini adalah lokasi perjanjian ‘‘Two Plus Four‘‘ tahun 1990 antara Jerman dan sekutu yang menduduki Jerman pada akhir Perang Dunia: AS, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Keempatnya sepakat mengakhiri hak okupasi Jerman, yang membuka jalan bagi penyatuan kembali Jerman Barat dan Timur. Beberapa plakat menyebutkan di sinilah Perang Dunia II sejatinya diakhiri.
Foto: picture-alliance/dpa/Hans Joachim Rech
10 foto1 | 10
Sejarawan Florian Schmaltz mengungkapkan, pada tahun1988, ilmuwan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mengusulkan menggunakan hasil eksperimen gas phosgen yang dilakukan oleh Otto Bickenbach pada tahanan di kamp konsentrasi Natzweiler-Struthof, sebagai dasar untuk melakukan percobaan baru pada hewan terkait paparan phosgen. Rencana tersebut kemudian dibatalkan setelah memicu protes beberapa kolega dari EPA, menurut Prof. Sabine Hildebrandt dari Harvard Medical School.
Sebagian dari ilmu genetika manusia, psikiatri, dan antropologi medis juga secara metodologis menggunakan praktik-praktik yang dikembangkan dan diterapkan selama masa Nazi.
"Ada kontinuitas tinggi di bidang anatomi dan neuropatologi, pada masa Nazi telah dibuat koleksi data neuropatologi yang sangat besar, yang menjadi rujukan penelitian untuk waktu yang lama setelah perang dunia kedua berakhir," kata Prof. Czech.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Meskipun nilai ilmiah penelitian terbatas dan tidak lagi relevan dalam pengobatan intensif modern, preparat seperti sampel jaringan dan irisan otak korban tetap digunakan untuk riset hingga era 1980-an dan 1990-an, sebelum akhirnya direvisi dan dimakamkan secara layak. Proses pembersihan dan penanganan etis koleksi ilmiah dari masa Nazi, baru dimulai pada tahun 1997 di beberapa fasilitas atau lokasi Max-Planck-Gesellschaft.
Cuplikan Buku Harian Korban Yang Selamat dari Kamp Auschwitz
Sheindi Miller-Ehrenwald berumur 14 tahun saat dideportasi ke Auschwitz. Tulisan tentang deportasi dan kehidupannya di kamp, kini dipajang di museum sejarah Jerman di Berlin.
Foto: Yad Vashem, Jerusalem
Deportasi Auschwitz-Birkenau
Saat Nazi menduduki Hongaria bulan Maret 1944, populasi Yahudi dilucuti hak-hak sipilnya, dipersekusi, dideportasi dan pada akhirnya dibunuh. Sheindi Ehrenwald berusia 14 tahun saat itu, mencatat semuanya. Termasuk deportasi dan kehidupan di kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau. Hampir seluruh anggota keluarganya dibunuh oleh Nazi.
Foto: Holokauszt Emlékközpont, Budapest
Foto masa lalu
Foto ini kemungkinan berasal dari tahun 1935, saat semua masih normal di kehidupan keluarga Ehrenwald. Mereka pedagang dan bagian dari komunitas besar yang tinggal di kota Galanta dekat perbatasan ke Austria. Pria di barisan depan adalah ayah Sheindi, Lipot (Leopold) Ehrenwald, yang meninggal di Auschwitz.
Setelah tiba di Auschwitz-Birkenau, pendatang baru yang tidak langsung dieksekusi dipaksa untuk bekerja. Sheindi dibawa ke pabrik senjata di Niederschlesien.
Foto: Yad Vashem, Jerusalem
Menulis di kartu indeks
Sheindi diam-diam menulis kisahnya di kartu indeks yang dibuang oleh pabrik senjata. Ia berhasil menyembunyikan dan menyimpannya selama 14 bulan sebelum hari pembebasan. Buku hariannya adalah testimoni langka dari masa tersebut. (vlz/yp)
Menurut ahli anatomi Sabine Hildebrandt, sebagian besar teknik dan data dari masa Nazi saat ini hampir tidak lagi relevan, dan oleh karena itu setidaknya tidak secara aktif digunakan. "Namun, ini tidak berarti bahwa temuan dari penelitian tersebut tidak masuk ke dalam pengetahuan medis umum, dan terus berpengaruh, misalnya dalam buku-buku pelajaran dari berbagai disiplin medis.”
Hildebrandt menekankan pentingnya kesadaran yang lebih besar akan konteks dan asal data temuan. Penting untuk menyebutkan nama korban, biografi, serta penderitaan yang mereka alami, bukan hanya sekadar memberi catatan kaki tentang asal usul data.
Iklan
Bisa dicontoh negara lain?
Eksperimen medis paksa tidak hanya terjadi di era Nazi, tetapi juga di seluruh dunia terutama dalam konteks kolonial. Namun, refleksi kritis terhadap hal ini sangatlah minim.
Hildebrandt menyebutkan, Nazi adalah contoh paling ekstrem dan terdokumentasi dari pelanggaran etika medis dalam rezim otoriter. Beberapa negara dengan sejarah kolonial mulai diperhadapkan pada masa lalunya. Negara seperti Jepang hingga saat ini belum mengakui kekejaman riset medis paksa, dan eksperimen kejam yang dilakukan terhadap terhadap tawanan perang, serta warga sipil di Cina, Korea, dan wilayah kekuasaan lainnya.
Di AS, penelitian tentang sejarah kedokteran dan perbudakan mulai berkembang, meskipun ada upaya politik untuk membatasi narasi tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman