WHO: Kaum Muda Eropa Masih Gandrungi Tembakau
27 Februari 2026
Masyarakat yang tinggal di Eropa, Rusia, dan Asia Tengah jika digabungkan maka akan menjadi kawasan dengan angka tertinggi pengguna tembakau global dan tren ini diperkirakan tidak akan berubah sebelum 2030, menurut studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Hal ini sejalan dengan laporan tahun 2025 yang menyebut bahwa kelompok wilayah yang dikenal sebagai regional Eropa tersebut kini memimpin penggunaan tembakau dan diprediksi tidak mencapai target mengurangi konsumsi tembakau hingga akhir dekade ini.
Penggunaan tembakau di sini tidak hanya merujuk pada rokok atau cerutu namun pada rokok elektronik atau produk tembakau tanpa asap yang mengandung zat kimia adiktif, nikotin, yang diekstrak dari tanaman tembakau. Produk tembakau tanpa asap mencakup tembakau kunyah atau kantung nikotin yang diletakkan di antara gigi dan gusi.
Direktur WHO wilayah, Hans Henri Kluge, mengatakan bahwa industri tembakau telah secara langsung menargetkan kaum muda untuk memperkenalkannya mereka pada produk tembakau, meskipun beberapa negara telah berupaya meregulasikan iklan dan pengembangan produk turunan tembakau.
Siapa saja yang gemar merokok di Uni Eropa?
Di antara anak-anak berusia 13-15 tahun di wilayah Eropa:
- 4 juta menggunakan produk tembakau
- Satu dari tujuh menggunakan rokok elektronik - angka tertinggi dibandingkan wilayah WHO lainnya
- Perempuan menggunakan tembakau lebih banyak dibandingkan kelompok seusia di lima wilayah WHO lainnya
"Ini adalah hasil strategi industri yang sengaja menargetkan anak muda dengan produk beragam rasa didukung pemasaran media sosial yang canggih,” jelas direktur WHO tersebut.
Namun negara-negara seperti Belgia, Denmark, dan Belanda telah membuktikan bahwa masih mungkin "melawan tren ini dengan meregulasikan produk-produk baru, melarang ragam rasa tembakau, serta mengetatkan iklan,” jelas Kluge.
Perokok perempuan juga sangat lambat meninggalkan kebiasaan ini. Sekitar dua perlima perokok perempuan di dunia tinggal di wilayah ini.
Regulasi yang tidak merata di Eropa
WHO menyatakan bahwa ada kelemahan regulasi di beberapa wilayah yang memungkinkan produk tembakau merajalela di kalangan anak muda.
Hingga 2025, wilayah Asia Tenggara memiliki tingkat penggunaan tembakau tertinggi di dunia di antara enam wilayah kesehatan WHO.
Namun tren rokok di wilayah tersebut telah menunjukkan penurunan. Asia Tenggara melakukan perubahan dengan menerapkan label peringatan kesehatan pada kemasan produk, larangan merokok, edukasi di sekolah, dan menyertakan figur publik sebagai pemengaruh.
Upaya Eropa dalam hal ini, kurang seragam.
WHO menyatakan bahwa hanya sepertiga negara di wilayah Eropa yang telah menerapkan undang-undang bebas asap rokok di ruang publik.
Hanya seperempat negara dari wilayah tersebut yang memiliki layanan bantuan nasional, layanan gratis untuk membantu untuk berhenti dari merokok atau larangan iklan tembakau. Harga tembakau juga lebih murah di dua pertiga negara Eropa saat ini dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu.
Kluge mengatakan 1,1 juta orang yang tinggal di wilayah Eropa meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh penggunaan tembakau.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Rizki Nugraha