1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

WHO: Plastik Mikro di Air Tidak Berbahaya Bagi Manusia

22 Agustus 2019

Para ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan tidak ada bukti kalau partikel plastik berukuran mikro itu mengancam kesehatan manusia. Namun mereka mengatakan masih perlu bukti lebih lanjut.

Mikroplastik
Foto: picture-alliance/dpa/Oregon State University

Partikel plastik berukuran mikro semakin banyak ditemukan dalam air minum, tetapi sejauh ini tidak ada bukti bahwa ini menimbulkan risiko bagi manusia, demikian menurut hasil penilaian terbaru oleh WHO.

Namun, badan PBB ini memperingatkan bahwa mereka masih perlu melakukan lebih banyak penelitian untuk memahami sepenuhnya bagaimana plastik menyebar ke lingkungan dan akhirnya memasuki tubuh manusia.

Hingga saat ini belum ada definisi yang disepakati secara universal tentang plastik mikro tetapi umumnya ukuran plastik mikro dianggap lebih kecil dari setengah milimeter.

Produksi plastik meningkat secara luar biasa dalam beberapa dekade terakhir dan diperkirakan akan tumbuh berlipat ganda lagi hingga 2025, kata laporan itu. Ini berarti akan ada lebih banyak plastik yang terurai menjadi partikel kecil yang kemudian larut dalam air, pipa, gelas, tenggorokan, dan akhirnya ke perut.

Studi ini menunjukkan bahwa air minum dalam kemasan bahkan mengandung unsur polimer yang berukuran sangat kecil yang digunakan untuk membuat wadah dan tutup.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa manusia mungkin telah terkontaminasi bahan kimia yang digunakan dalam plastik atau patogen yang menumpang dalam partikel itu.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah anggapan bahwa sistem vital dalam tubuh makhluk hidup dapat dikuasai oleh benda-benda asing tersebut. Ingat gambar burung laut, ikan, dan hewan liar lainnya yang mati atau sakit karena organ dalam mereka tersumbat limbah plastik.

Namun laporan WHO mengatakan bahwa ketakutan ini tidak berdasarkan pada sains.

Laporan itu bahkan mengatakan plastik mikro dengan ukuran lebih besar (lebih dari 150 mikrometer - atau sebesar diameter rambut manusia) paling tidak memprihatinkan karena bisa keluar dari tubuh manusia. 

Seorang lelaki mengumpulkan sampah plastik di Sungai Ciliwung, Jakarta, pada Juli 2019Foto: picture-alliance/A. Gal

Partikel yang lebih kecil, lanjut laporan itu, berpotensi melewati dinding saluran pencernaan dan tersangkut. Namun para peneliti percaya bahwa partikel-partikel ini tidak mungkin menumpuk dalam jumlah yang berbahaya.

Sementara untuk partikel terkecil yaitu plastik nano yang berukuran kurang dari 1 mikrometer, dampaknya tidak banyak yang diketahui saat ini.

'Risiko rendah'

"Berdasarkan bukti terbatas yang tersedia, kekhawatiran adanya dampak bahan kimia dan mikroba patogen yang berhubungan dengan mikroplastik dalam air minum terhadap tubuh manusia ini rendah. Meski demikian, tidak ada informasi yang cukup untuk menarik kesimpulan yang kuat tentang bahaya partikel nano, tidak ada informasi yang dapat diandalkan menunjukkan itu bisa menjadi masalah,” demikian menurut kesimpulan penelitian itu.

Para penulis penelitian ini tidak menganjurkan untuk adanya pemantauan rutin plastik mikro dalam air minum. Mereka menyarankan lebih baik mengalokasikan dana dan energi untuk menghilangkan bakteri dan virus yang risikonya jauh lebih besar dan lebih terbukti. Lebih dari 2 miliar orang tidak memiliki akses ke air minum yang tidak tercemar.

"Kesimpulan keseluruhannya adalah konsumen tidak usah terlalu khawatir," kata Bruce Gordon, salah satu penulis penelitian itu. Meski demikian ia mendesak diadakan penelitian yang lebih lanjut.

“Dengan data yang kami miliki, kami percaya bahwa risikonya rendah. Tetapi (kami) tidak dapat mengatakan secara meyakinkan bahwa tidak akan ada risiko di masa depan. Bagaimanapun kami tidak khawatir."

Respon terbaik untuk masalah ini, katanya, adalah mengurangi sampah plastik dengan tidak memakai plastik sekali pakai dan mempromosikan daur ulang dan penggunaan bahan alternatif lain.

ae/ts (The Guardian)