1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ekonomi

WSJ: Jatuhnya Lion Air 737 Max Karena Salah Konstruksi

23 September 2019

Harian Wall Street Journal hari Minggu (22/09) membocorkan laporan penyelidikan Indonesia soal jatuhnya Lion Air 737 Max, yang baru akan dirilis bulan depan. Kesimpulannya: salah konstruksi dan penanganan.

Indonesia, Lion Air, Boeing 737 Max
Booeing 737 Max, pesawat terlaris karena didesain murahFoto: dapd

Laporan hasil penyelidikan Indonesia mengenai kecelakaan Lion Air Boeing 737 Max itu baru akan dirilis secara resmi bulan November. Namun harian Wall Streetn Journal (WSJ) hari Minggu (22/09) sudah mempublikasikan temuan-temuan inti dari laporan itu.

Kesimpulan laporan penyelidikan otoritas Indonesia di bawah supervisi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menurut WSJ adalah kesalahan konstruksi pesawat dan beberapa kesalahan pilot menangani insiden itu.

Pesawat Lion Air tipe Boeng 737 Max dengan nomor penerbangan JT610 jatuh ke laut pada 29 Oktober 2018 sesaat setelah lepas landas. Seluruh 189 penumpoang dan awak pesawat tewas dalam kecelakaan itu.

Penyelidikan kecelakaan Boeing 737 Max dipusatkan pada sistem anti-stall yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang dirancang khusus untuk 737 MAX. Sistem itu secara otomatis mengambil alih pengendalian pesawat untuk mencegah hidung pesawat terangkat terlalu tinggi dalam kecepatan terlalu rendah, yang akan mengakibatkan pesawat jatuh. Sistem secara otomatis akan menukikkan hidung pesawat ke bawah dan menambah kecepatan.

Kecelakaan serupa dengan Boeing 737 Max terjadi beberapa bulan kemudian dengan pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh tidak lama setelah lepas landas dari Addis Ababa dan  menewaskan 157 penumpang. Dalam kasus itu, pilot juga berusaha menaikkan hidung pesawat, setelah sistem MCAS secara otomatis menukikan hidung pesawat karena salah fungsi.

Pesawat Boeing 737 Max milik maskapai Southwest Airlines yang "didaratkan" setelah ada larangan terbangFoto: AFP/Getty Images/M. Ralston

Boeing klaim ada "kesalahan pilot"

WSJ menulis, temuan penyelidik Indonesia sudah dibagikan kepada Administrasi AS, FAA, dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional, NTSB. Para pejabat AS dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada akhir September untuk membahas laporan tersebut.

Pihak Boeing dan FAA diberitakan khawatir dengan kesimpulan dari Indonesia, yang "terlalu menekankan desain dan sertifikasi FAA adalah langkah yang salah," kata WSJ. Karena kalau itu kesimpulannya, Boeing kemungkinan besar menghadapi gugatan jutaan dolar dari keluarga korban. Boeing sebelumnya membantah kesalahan konstruksi dan mengatakan bahwa jatuhnya pesawat itu adalah karena "kesalahan pilot."

Juru bicara Boeing kepada kantor berita AFP secara diplomatis menerangkan: "Boeing akan terus mendukung penyelidikan ketika laporan kecelakaan sedang diselesaikan."

Sedangkan pihak FAA dan NTSB menolak berkomentar. NTSB mengatakan sedang mempersiapkan pengumuman hasil pemeriksaan mereka "sekitar akhir bulan," sekaligus rekomendasi untuk meningkatkan pelatihan pilot dan kru, dan untuk proses sertifikasi FAA, tulis WSJ.

Booeing 737 Max, pesawat terlaris karena didesain murahFoto: dapd

Kesalahan konstruksi 737 Max karena persaingan ketat?

Panel internasional yang dibentuk oleh FAA juga diharapkan menyerahkan laporan pemeriksaan mereka dalam beberapa minggu mendatang. Sampai saat ini, Pesawat Boeing 737 Max masih dilarang terbang karena kedua kecelakaan itu.

Perusahaan Boeing menderita kerugian besar setelah banyak maskapai penerbangan membatalkan pesanan ratusan pesawat 737 Max yang sebelumnya merupakan salah satu model terlaris. Boeing sudah memberikan beberapa usulan perbaikan konstruksi Boeing 737 Max agar bisa mendapat izin terbang lagi. Namun hingga kini FAA belum mengeluarkan izin terbang untuk pesawat itu.

Banyak pihak menuduh Boeing membuat konstruksi pesawat yang tidak aman karena ingin menekan harga pesawat jadi lebih murah di tengah persaingan ketat bisnis pesawat terbang.

hp/ae (afp, rtr, dpa)