Xi Jinping dan Lee Bahas Kerja Sama di Tengah Konflik Jepang
2 Januari 2026
Presiden Cina Xi Jinping akan menjamu Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung dalam kunjungan resmi kenegaraan di Beijing. Agenda tersebut dimaknai sebagai niat Beijing untuk memperkuat hubungan dengan Seoul, di tengah dinamika hubungan Cina dan Jepang dalam persoalan tentang Taiwan.
Kunjungan yang direncanakan dimulai pada Minggu (04/01) mendatang menjadi pertemuan kedua antara Xi Jinping dan Lee Jae Myung dalam kurun dua bulan. Pengamat menilai rencana pertemuan ini memiliki jeda yang cukup singkat dan mencerminkan kuatnya kepentingan Cina untuk mempererat hubungan dengan Korsel, termasuk dalam kerja sama ekonomi dan pariwisata.
Perlu diketahui, hubungan Cina dan Jepang telah mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, setelah Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 menyatakan kalau Tokyo dapat mengambil tindakan militer jika Beijing menyerang Taipei.
Oleh karena itu, undangan Xi Jinping kepada Lee Jae Myung untuk melakukan kunjungan kenegaraan ini dimaknai sebagai langkah yang telah diperhitungkan dengan cermat untuk memperdalam hubungan bilateral. Terlebih lagi, menurut pengamat, niatan itu juga disampaikan menjelang rencana kunjungan Lee Jae Myung ke Jepang.
"Cina ingin sedikit lebih menegaskan pentingnya Korea Selatan dibandingkan sebelumnya," kata Kang Jun-young, profesor ekonomi politik di Hankuk University of Foreign Studies.
"Cina tampaknya secara strategis memutuskan bahwa akan lebih baik jika Lee berkunjung ke Cina sebelum Korea Selatan kembali menggelar pertemuan dalam KTT Jepang," tambahnya.
Pada Jumat (02/01), penasihat keamanan utama presiden Korea Selatan, Wi Sung-lac, mengatakan bahwa dia berharap pertemuan antara Lee Jae Myung dan Xi Jinping akan membuka "babak baru" dalam hubungan bilateral kedua negara.
Cina dan Korsel, tambahnya, tengah menyiapkan lebih dari 10 kesepakatan di bidang ekonomi, bisnis, dan iklim, meskipun tidak sedang menyusun pernyataan bersama.
Pemerintahan Lee Jae Myung menyatakan ingin "memulihkan" hubungan dengan Beijing, sambil mengakui bahwa Cina merupakan mitra dagang terbesar Korea Selatan.
Perubahan arah ini menyusul hubungan yang menegang pada masa pemerintahan pendahulu Lee Jae Myung, Yoon Suk Yeol, akibat kedekatannya dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang, serta kritiknya terhadap penanganan Cina atas isu Taiwan.
Sekarang, Korsel terlihat berupaya menjaga keseimbangan. Hanya saja peningkatan kerja sama dengan Cina lebih cenderung diartikan sebagai cara Korsel untuk menghindari keterlibatan yang dapat mengancam stabilitas kekuatan industrinya.
Pada Desember 2025, Lee Jae Myung mengatakan bahwa dia tidak akan memihak dalam sengketa diplomatik antara Cina dan Jepang.
Aliansi AS dan Korea Utara
Meski demikian, Cina dan Korsel tengah menghadapi persoalan kompleks, di tengah upaya Cina menantang AS, yang merupakan sekutu utama Korsel di kawasan Asia. Selain itu, ada dinamika dari Korea Utara (Korut) yang tetap tidak dapat diprediksi.
Cina merupakan sekutu utama sekaligus penopang ekonomi terpenting bagi Korea Utara. Sementara itu, Korut juga diketahui sebagai negara yang memiliki senjata nuklir.
Shin Beom-chul, mantan Wakil Menteri Pertahanan Korea Selatan dan peneliti senior di Sejong Institute, mengatakan bahwa Xi dan Lee kemungkinan akan membahas sejumlah isu sensitif, termasuk upaya modernisasi aliansi Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Saat ini, sekitar 28.500 tentara Amerika Serikat ditempatkan di Korea Selatan untuk menangkal ancaman dari Korea Utara.
Pejabat Amerika Serikat telah menyampaikan rencana untuk membuat pasukan tersebut lebih fleksibel dalam merespons ancaman lain, seperti mempertahankan Taiwan dan membendung peningkatan kekuatan militer Cina.
"Korea Selatan tidak hanya merespons ancaman di Semenanjung Korea," kata Jenderal Xavier Brunson, Komandan Pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan, dalam sebuah forum pada 29 Desember 2025. "Korea berada di persimpangan dinamika kawasan yang lebih luas yang membentuk keseimbangan kekuatan di Asia Timur Laut," tambahnya.
Wi Sung-lac juga mengatakan kalau Korea Selatan akan berupaya meyakinkan Cina bahwa rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir semata-mata ditujukan untuk menangkal ancaman Korea Utara.
Menurut pengamat, Lee Jae Myung dalam pertemuannya dengan Xi Jinping juga akan membahas upaya membujuk Cina agar memfasilitasi dialog dengan Korut. Sebelumnya, Korut sendiri menolak pendekatan Lee Jae Myung.
Kerja sama teknologi dan rantai pasok
Kantor kepresidenan Korsel menyebut kunjungan Lee Jae Myung ke Beijing diperkirakan akan membahas kerja sama di berbagai bidang, termasuk mineral kritis, rantai pasok, dan industri hijau.
Seoul memperoleh hampir setengah pasokan mineral tanah jarang dari Cina, yang penting bagi industri semikonduktor. Beijing juga menyerap sekitar sepertiga ekspor cip tahunan yang diproduksi Korea Selatan, menjadikannya pasar terbesar sejauh ini.
Kemudian pada Desember 2025, Menteri Perindustrian Korea Selatan Kim Jung-kwan dan Menteri Perdagangan Cina Wang Wentao sepakat untuk bekerja sama dalam menjaga stabilitas pasokan mineral tanah jarang. Hal itu disampaikan lewat sebuah pernyataan dari pemerintah Korea Selatan.
Para pakar menilai kunjungan ini juga dapat mendorong kemitraan di bidang akal imitasi (AI) dan teknologi maju.
Perusahaan teknologi Cina, Huawei Technologies, berencana meluncurkan cip kecerdasan buatan Ascend 950 di Korea Selatan tahun 2025, dengan tujuan menyediakan alternatif bagi perusahaan Korsel yang selama ini menggunakan produk Nvidia. Hal ini disampaikan oleh CEO Huawei Korea Selatan, Balian Wang, dalam konferensi pers Desember 2025.
Balian Wang menyebutkan bahwa pembicaraan dengan calon pelanggan masih berlangsung, tanpa menyebutkan nama pihak-pihak tersebut.
Hanya saja, Huawei belum merespons permintaan Reuters terkait pernyataannya tersebut.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi dan Adelia Dinda Sani
Editor: Hani Anggraini