Masjid adalah pertemuan dimensi sakral sekaligus profan. Ia dekat dengan hal-hal yang bersifat transedental dalam upaya perjamuan jiwa manusia kepada Tuhan. Opini Kalis Mardiasih
Foto: Getty Images/AFP/K. Tarigan
Iklan
Lima orang ibu-ibu saling menyimak bacaan Alqur'an di sebuah masjid di Desa Ngaglik, Yogyakarta. Masjid itu terdiri dari dua lantai, cukup mewah dan luas untuk ukuran sebuah masjid kampung. Dari lantai atas, saya dengar sayup suara anak-anak yang sebagian mengaji, sebagian cekikikan dan sebagian seperti lari berkejar-kejaran. Ada suara seorang ustaz laki-laki mengajar mereka. Cukup ramah anak, batin saya. Saya tak sengaja mampir untuk salat karena masih berada di jalan di penghujung batas waktu salat magrib.
Kesakralan itu kemudian khas dengan identitas masjid yang biasa dijaga kesuciannya, diberi seperangkat aturan agar hening, beberapa masjid yang ekslusif bahkan tampak setara dengan bangunan kerajaan atau kompleks perkantoran elit sehingga pengemis atau gelandangan merasa tak layak untuk singgah.
Foto: Kalis Mardiasih
Di lain situasi, masjid juga menjadi begitu profan
Hampir sejak helatan pilpres 2014 hingga bergejolaknya kasus Ahok yang dituding sebagai penista agama, masjid menjadi tempat yang penuh kepentingan. Salat Jumat, khususnya, selalu menjadi momentum politis untuk propaganda ujaran dalam rangka menggiring opini massa. Tujuan kampanye, memperoleh suara serta pemenangan kekuasaan tidak terkait sama sekali dengan Tuhan, tetapi konon Tuhan selalu dibawa serta dan dijadikan legitimasi hasrat politik. Khotbah Jumat bukan lagi berupa suara yang meneduhkan soal nilai filsafati yang mendorong ibda bin nafsik, tapi di jalanan Jakarta yang terik, saya pun mendapati pelantang masjid yang menggemakan ujaran yang menyesakkan gendang telinga.
Di perkampungan, bahasa politik nasional yang kian jauh dari intelektualitas dan mendestabilisasi demokrasi tidak begitu nampak. Seorang khatib sekaligus imam salat jumat masih terbata-bata membaca teks dari sebuah kertas fotocopy buku kumpulan khotbah jumat yang ia beli dengan harga murah dari sebuah toko buku lokal. Barangkali buku yang ia beli itu hasil dari reproduksi teks yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Pola konservatisme teks saduran semacam ini memang cenderung aman, teks akan membicarakan tema-tema universal seperti peringatan hari raya atau ajakan untuk bertaqwa dalam definisi yang paling umum. Namun, apakah khatib ortodoks ini mampu mengadvokasi subkultur para jamaah sehingga dapat mewujud dalam kesalehan sosial yang menyesuaikan zaman dan waktu?
Ada Masjid Kapal 'Nabi Nuh' di Semarang
Sebuah masjid unik berbentuk kapal menarik perhatian pengunjung di Semarang. Masyarakat menyebutnya mirip seperti bahtera nabi Nuh.
Foto: Imago
Bagaikan bahtera Nabi Nuh
Masjid ini disebut "masjid kapal" karena bentuknya seperti kapal. Orang-orang membayangkan bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan pengikutnya berikut makhluk hidup lainnya, saat diterjang banjir bandang. Masjid tersebut terletak di sebuah perkampungan dekat hutan di Kelurahan Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah.
Foto: Imago
Lengkap dengan buritan dan haluan
Pendirinya, seorang kyai bernama Achmad. Luas masjid ini 2.500 meter persegi. Bagaikan bahtera, masjid ini dilengkapi semacam buritan dan haluan.
Foto: Imago
Jendelanya puluhan
Ada enam pintu utama dalam masjid tersebut, sementara jumlah jendelanya mencapai lebih dari 70 buah dengan model bagai jendela kapal. Nantinya, warga juga bisa menggunakan sarana di masjid untuk pertemuan, hajatan, atau bahkan resepsi perkawinan.
Foto: Imago
Dibangun tiga lantai
Masjid ini berlantai tiga. Lantai pertama dapat dimanfaatkan sebagai ruang pertemuan, tempat wudu, dan toilet. Lantai duanya berfungsi sebagai masjid, sementara lantai tiganya bisa dipakai untuk kegiatan mengajar, perpustakaan dan balai karya. Klinik dan asrama putri bakal tersedia pula di kompleks masjid ini.
Foto: Imago
Pemandangan hijau
Ke depan, masjid ini juga bisa menjadi salah satu lokasi wisata karena keunikannya. Masjid ini berada di tengah hutan dan sawah. Menteri Pariwisata Arief Yahya tak ketinggalan turut mendorong warga mengunjungi masjid tersebut, agar semakin dikenal masyarakat. Ed: ap/vlz (berbagai sumber)
Foto: Imago
5 foto1 | 5
Jadi pusat studi
Masjid, dalam konteks sejarah, seharusnya memang lebih dari sebuah bangunan yang digunakan untuk ibadah-ibadah fisik. Ketika Nabi Muhammad membangun Masjid Nabawi pada 622 M, masjid itu adalah cikal bakal sebuah peradaban yang kelak menerangi kegelapan yang telah berabad lamanya menaungi langit negara Arab. Masjid Nabawi tampil sebagai pusat pendidikan dan pusat informasi yang menjadi hilir mudiknya komunikasi para sahabat ketika membicarakan persoalan ekonomi dan politik untuk solusi masyarakat ketika itu. Masjid di masa Rasulullah juga merupakan tempat resolusi konflik, mencari perdamaian, dan pengadilan sengketa untuk orang-orang yang saling berseteru.
Demikian pula ketika pada tahun 1899 KH Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng setelah kepulangan beliau menuntut ilmu dari Mekkah. Tebuireng adalah sarang perjudian, pencurian, pelacuran, potret sebuah desa yang penuh dengan masalah-masalah sosial. Akan tetapi, justru di tempat itulah KH Hasyim Asy'ari bersama istrinya, Nyai Khodijah, mendirikan sebuah ruang berukuran 6x8 meter berdinding anyaman bambu (gedheg) untuk kegiatan pengajian. Kotak ruang itu kelak pernah dilempari batu hingga senjata tajam oleh perampok di sekitar lokasi yang sama sekali belum kenal agama, namun berkat kesabaran dan kepercayaan KH Hasyim Asy'ari bahwa pendidikan akan mengubah semua sektor kehidupan manusia, kini Tebuireng adalah pusat belajar ilmu Islam sekaligus ilmu moderen yang paling disegani di Indonesia.
Masjid Termegah di Dunia
Dari Mekah ke Medinah, dari Yerusalem hingga Casablanca, bahkan dari Rusia hingga Roma, berdiri masjid-masjid termegah di dunia. Berikut di antaranya.
Foto: picture-alliance/dpa
Masjidil Haram di Mekah
Ini adalah masjid terbesar di dunia dengan luas 350 ribu meter persegi. Masjid tujuan utama ibadah haji ini dibangun pada abad ke-16 dan memiliki sembilan menara. Dari waktu ke waktu, masjid ini terus diperluas. Masjid al Haram kini bisa menampung hingga satu juta orang.
Foto: picture-alliance/dAP Photo/K. Mohammed
Masjid Nabawi di Madinah
Setelah Masjid al-Haram di Mekah, masjid terpenting lainnya di dunia adalah Masjid Nabawi. Makam Nabi Muhammad dan para sahabatnya terdapat di sini. Batu pondasi diletakkan pada tahun 622. Masjid ini bisa menampung 600 ribu orang. Masing-masing menara tingginya sekitar 100 meter.
Foto: picture-alliance/epa
Masjid Al-Aqsa di Yerusalem
Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem dapat menampung 5000 orang. Bersama dengan Kubah Batu dengan kubah berlapis emas, masjid ini menjadi salah satu yang paling terkenal, setelah masjid Al-Haram di Mekah dan masjid Nabawi di Madinah. Masjid Al-Aqsa dibuka sejak tahun 717.
Foto: picture alliance/CPA Media
Masjid Hassan II di Casablanca
Masjid di pantai Atlantik ini dinamakan sesuai nama mantan Raja Maroko Hassan II. Masjid dibangun untuk memperingati ulang tahunnya ke-60 dan diresmikan tahun 1993. Sebenarnya ada masjid yang jauh lebih besar, tetapi rekor dunia yang dipegang masjid ini adalah ketinggian menaranya yang mencapai lebih dari 210 meter.
Foto: picture alliance/Arco Images
Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi
Masjid ini dibuka pada tahun 2007 dan merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Masjid ini luasnya 224 x 174 meter, dengan menara setinggi lebih dari 107 meter. Kubah utamanya yang berdiameter 32 meter, merupakan kubah masjid terbesar di dunia.
Foto: imago/T. Müller
Masjid Agung Roma
Ibu kota Katolik Roma, memiliki sebuah masjid agung. Dengan luas 30.000 meter persegi, masjid ini menjadi yang terbesar di Eropa. Pusat Kebudayaan Islam Italia bermarkas di sini. Mereka menyediakan layanan budaya dan sosial bagi umat Islam Sunni dan Syiah. Bangunan suci ini diresmikan tahun 1995.
Foto: picture-alliance/akg-images
Masjid Akhmad Kadyrov di Grozny
Masjid ini dinamai sesuai nama mantan Presiden Chechnya yang juga seorang Mufti dan wafat dalam serangan tahun 2004. Pembangunan masjid terganggu beberapa kali karena perang Chechnya. Masjid ini dibangun oleh perusahaan Turki dan dibuka tahun 2008. Karena sering gempa bumi di wilayah tersebut, masjid dibangun di atas pondasi tahan gempa.
Foto: picture-alliance/dpa/RIA Novosti/A. Kudenko
Masjid Kul Sharif di Kazan
Nama masjid Kul Sharif mengingatkan pada Imam terakhir dari Kazan sebelum dicaplok Rusia. Masjid ini bertetangga dengan Katedral Annunciation. Keduanya menjadi simbol dari keharmonisan penduduk Muslim dan Ortodoks Tatarstan (wilayah otonom di Rusia). Setelah sembilan tahun dibangun, masjid ini dibuka tahun 2005,
Foto: Maxim Marmur/AFP/Getty Images
Masjid Agung Moskow
Di Moskow, ibukota Rusia terdapat salah satu masjid terbesar di Eropa, yang kembali diresmikan tahun 2015. Bangunan enam lantai ini luasnya hampir 20.000 meter persegi dan ruangannya bisa memuat 10.000 orang. Saat peresmian kembali oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin hadir presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dan pemimpin Palestina, Mahmud Abbas.
Foto: Getty Images/AFP/V. Maximov
9 foto1 | 9
Fenomena berbeda
Lima ibu mengaji di masjid yang saya jumpai di atas tentu saja berbeda dengan Seyran Ates, muslimah Turki yang pada bulan Juli lalu mendirikan Masjid Ibnu Rusyd-Goethe di Berlin Jerman. Ates mendapat ratusan ancaman pembunuhan karena memunggungi interpretasi Islam yang "umum”. Ia membuka masjid "liberal” itu untuk semua kalangan, mulai dari Sunni, Syiah, Alawi, Muslim Sufi hingga komunitas LGBTQ. Dengan metodologi yang ia sebut progresif, Ates juga menjadi imam salat dengan makmum laki-laki dan perempuan, dengan meminta Ani Zonneveld sebagai pemanggil azan. Sebuah peristiwa yang mengingatkan ke pertengahan tahun 2008 ketika Amina Wadud, feminis Amerika Serikat menjadi imam dan khatib salat jumat di Inggris, mendobrak tradisi Islam mapan yang telah bertahan 1500-an tahun.
Fenomena Amina Wadud ataupun Ates nampaknya masih jauh untuk coba diduplikasi di Indonesia. Jikapun terjadi, sudah pasti gerakan paramiliter Islam telah siap membentuk barikade untuk demo berjilid-jilid. Di beberapa arus kajian komunitas maupun studi Islam, pemikiran Islam progresif telah tumbuh. Namun, produk-produk ilmiah dari pemikirannya masih mandeg dalam jurnal dengan akses ekslusif maupun forum-forum para priyayi ilmu pengetahuan. Masjid, sebagai ruang yang mengakomodasi keberserahan spiritual sekaligus seharusnya nalar logika dalam keberimanan masih menjadi tempat mapan yang diam-diam menjadi panggung bagi beberapa ambisi.
Wadud maupun Ates juga tidak mesti dipaksakan untuk berkenalan dengan masjid kita jika memang belum benar-benar diperlukan. Tapi masjid seharusnya mendesak untuk membicarakan akhlak kepemimpinan yang hari ini jadi soal paling penting untuk dibicarakan. Masjid juga boleh jadi sumber kritisisme akal dengan menyediakan kitab dan buku-buku, ditemani oleh sumber-sumber otoritatif untuk mendiskusikan keresahan sosial tanpa sentimen negatif dan marah-marah.
Penulis:
Kalis Mardiasih
Penulis opini dan penejemah. Bergiat sebagai riset dan tim media Jaringan nasional Gusdurian Indonesia.
Rumah Ibadah: Bentuk Penghargaan Keyakinan
Jerman membuka diri untuk berbagai keyakinan. Di antaranya terlihat dari pembangunan rumah-rumah ibadah Muslim, yang diharapkan menjadi bagian dari integrasi antar budaya.
Foto: Getty Images
Mesjid Merkez di Duisburg
Diawali perdebatan selama enam tahun dan tahap perencanaan, yang disusul proses pembangunan selama enam tahun, akhirnya Mesjid Merkez di Duisburg berdiri pada tahun 2008. The Turkish-Islamic Union for Religious Affairs (DITIB) mendanai pembangunan mesjid ini. Mesjid ini juga digunakan sebagai wadah berdialog antar umat beragama.
Foto: Getty Images
Mesjid Gaya Klasik
Sekitar 1.200 orang bisa berkumpul di bawah kubah mesjid Merkez yang bergaya klasik ini. Ruang bawah tanah bangunan tersebut berisi perpustakaan. Ada lagi ruangan seluas 1.000 meter persegi yang bisa dipakai untuk acara khusus.
Foto: Getty Images
Koeksistensi Agama
Bahkan politisi Jerman konservatif menyerukan umat Islam untuk membangun mesjid. Di negara bagian Bayern ada beberapa tempat ibadah Muslim di lingkungan Katolik. Mesjid Kanun i Sultan Süleyman di kota Neu-Ulm selesai pada tahun 2006.
Foto: dapd
Mesjid Komunitas Turki di Berlin
Ada sekitar 80 mesjid dan mushola di Berlin. Kebanyakan dari bangunan-bangunan itu hampir tidak dikenali, karena banyak yang ukurannya kecil dan terletak di halaman belakang. Mesjid Sehitlik didirikan di distrik Tempelhof, di lokasi pemakaman Turki tertua di Eropa Tengah. Dua menara ramping mesjid mencapai lebih dari 30 meter yang menjulang ke langit.
Foto: Getty Images
Mesjid Utama di Köln
Terjadi aksi protes besar selama perencanaan mesjid baru di kota Köln. Pembangunannya dimulai pada bulan November 2009. Ukuran bangunan dan tampilannya menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat dan politisi Köln. Ini menjadi salah satu sebab tertundanya pembukaan mesjid sampai tahun 2013.
Foto: picture-alliance/dpa
Mesjid di bekas ibukota
Mesjid Al Muhajirin merupakan salah satu mesjid di kota Bonn, Jerman. Bekas ibukota Jerman saat ini memiliki sekitar sembilan mesjid.
Foto: Al-Muhajirin Moschee Bonn e.V.
Gambaran Islam
Banyak komunitas Muslim yang berpikiran terbuka yang mendukung integrasi ke dalam masyarakat Jerman, ada juga pendatang dari kelompok yang radikal. Mesjid Al Muhsinin Salafi di Bonn telah lama berada di bawah pengawasan badan keamanan Jerman. Itu salah satu dari 30 lokasi yang diduga menjadi bagian dari jaringan Islam fundamental.
Foto: picture-alliance/JOKER
Tempat Pertemuan Jihadis
Mesjid kecil di daerah perumahan juga ada. Misalnya Mesjid Falah di Frankfurt. Dinas keamanan Jerman sempat menggerebek masjid ini, atas dugaan keterlibatan dengan terorisme.
Foto: dapd
Tempat Pertemuan Modern
Banyak komunitas Muslim yang berkomitmen untuk dialog antaragama. Komunitas Muslim Frankfurt, yang mulai dengan kegiatan mahasiswa, memulai dialog antaragama pada awal tahun 1960-an. Sekarang mereka kerap bertemu di aula doa Masjid Abu Bakr. Di sini, pengunjung bisa mendapatkan wawasan tentang agama dan budaya Muslim di Jerman.
Foto: picture-alliance/dpa
Terbuka dan Modern
Forum Islam di Penzberg, München dikelola masyarakat yang menggambarkan dirinya sebagai warga independen, multinasional, netral dan terbuka. Karakteristik tersebut tercermin dalam arsitektur mesjid, yang dibuka pada tahun 2005, dengan bagian depan gedung berkilau biru yang terbuat dari ribuan keping kaca dan menara baja halusnya.
Foto: picture-alliance/dpa
Mesjid DITIB di Göttingen
Mesjid DITIB di Göttingen adalah bangunan baru lainnya, yang dibuka pada tahun 2007. Umatnya kebanyakan warga berlatar belakang Turki. Mesjid itu memiliki hubungan dengan komunitas mahasiswa Muslim Universitas Göttingen. Mereka menawarkan bantuan kepada anak-anak untuk menyelesaikan pekerjaan rumah mereka dan aktif terlibat dalam integrasi sosial.
Foto: picture-alliance/dpa
Mesjid Keempat Tertua di Jerman
Islamic Center di Hamburg adalah salah satu institusi Muslim tertua di Eropa dan merupakan pusat Islam Syiah di Jerman. Mesjid Imam Ali dibiayai oleh komunitas bisnis Iran pada tahun 1960-an. Meski badan-badan keamanan Jerman melakukan pengawasan terhadapnya, masjid ini tetap menyajikan gambaran keterbukaan.