1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Yoshihiko Noda Akan Jadi PM Baru Jepang

29 Agustus 2011

Di Jepang, Menteri Keuangan Yoshihiko Noda akan menjadi perdana menteri baru. Hari ini Noda, usia 54 tahun, terpilih jadi ketua Partai Demokrat yang sekarang memerintah.

Finance Minister Yoshihiko Noda, one of five candidates to replace Prime Minister Naoto Kan, arrives at the election by parliamentary members of the ruling Democratic Party of Japan in Tokyo Monday, Aug. 29, 2011. Kan is resigning after 15 months amid public criticism over his administration's handling of the tsunami disaster and ensuing nuclear crisis as well as disgust with political infighting. (Foto:Koji Sasahara/AP/dapd)
Menteri Keuangan Yoshihiko NodaFoto: dapd

Ketika hasil pengumpulan suara putaran pertama diumumkan, Banri Kaieda yang menjadi menteri perdagangan mendapat suara terbanyak, tetapi tidak memperoleh mayoritas mutlak dari 398 wakil partai DPJ di parlemen. Yoshihiko Noda secara mengejutkan berada di tempat kedua. Pada putaran kedua menteri keuangan yang terkenal dengan sikap keras dan rasional itu berhasil memenangkan lebih banyak suara. Dengan 40 suara lebih banyak dari Kaieda, Yoshihiko Noda akhirnya memenangkan pemilihan.

Mengingat partai pemerintah DPJ jelas memiliki suara terbanyak di majelis rendah, yang penting secara politis, Noda pasti akan dipilih menjadi perdana menteri Jepang yang baru, Selasa, 30 Agustus besok. Perdana Menteri Naoto Kan menyatakan pengunduran dirinya Jumat lalu (26/08) baik dari jabatan ketua partai maupun pemimpin pemerintahan. Langkahnya membuat pemilihan baru harus diadakan.

Membuktikan kepada Rakyat

Menteri Perdagangan dan Industri Banri KaiedaFoto: AP/Kyodo News

Naoto Kan terutama didesak untuk mundur oleh politisi DPJ berpengaruh luas, Ozawa dan mantan perdana menteri Hatoyama. Tetapi calon mereka, Kaieda ternyata tidak berhasil menang. Oleh sebab itu, ketua partai yang baru harus menyatukan partai tersebut. Setelah pemilihan hari ini, Noda mengatakan, "Penilaian rakyat tentang pekerjaan kita belum diketahui. Rakyat harus memutuskan, apakah pergantian kekuasaan dan kepercayaan bagi DPJ yang diberikan dua tahun lalu adalah keputusan yang benar. Dua tahun mendatang harus kita gunakan untuk membuktikan hal itu. Jadi mari kita mengembangkan politik, yang meyakinkan bagi rakyat.“

Kerjasama dengan oposisi tercakup di dalam politik itu. Yoshihiko Noda harus bekerjasama, karena oposisi menguasai majelis tinggi. Selama menjadi menteri keuangan dan dalam kampanye yang berlangsung singkat untuk menjadi ketua partai, Noda dengan jelas mendukung peningkatan pajak. Sebenarnya itu bukan tema yang populer. Tetapi menurut jajak pendapat, rakyat Jepang mengerti langkah yang diambil Noda. Ia menjelaskan, "Tidak ada pemerintah yang bisa menangguhkan keputusan tentang peningkatan pajak. Hanya dengan cara itu sistem pensiun dan sosial di Jepang dapat distabilkan. Dalam dua tahun ke depan saya ingin meningkatkan disiplin dalam politik fiskal. Untuk itu saya harus memilih orang yang tepat, yang dapat menilai kembali administrasi dan proyek-proyek, agar pemborosan dapat dibendung. Saya juga akan mengurangi jumlah anggota parlemen.“

Tugas Berat

Perdana Menteri Naoto Kan, yang sudah mengundurkan diriFoto: dapd

Setelah pemilihannya Noda menekankan, ia juga akan berusaha mengatasi semakin tingginya nilai tukar Yen. Ia akan melakukan yang terbaik untuk mendorong pembangunan kembali di daerah pantai timur laut yang dihancurkan tsunami. Di samping itu ia juga akan menyelesaikan sepenuhnya bencana nuklir Fukushima. Memang Noda menjadi pendukung setia penggunaan energi terbarukan, tetapi ia selama ini tidak menuntut penghapusan sepenuhnya penggunaan energi nuklir.

Pasar uang, komentator politik dan publik Jepang skeptis, apakah pemimpin baru itu akan memiliki visi, determinasi dan waktu cukup untuk menghadapi semua tangangan tersebut. Pasar bursa diduga akan menyambut baik pemilihan Noda, yang menjadi satu-satunya di antara para calon, yang secara konsisten menyerukan agar Jepang melaksanakan reformasi, agar dapat mengatasi utang yang kian bertambah.   

Peter Kujath / Marjory Linardy

Editor: Hendra Pasuhuk

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya