Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim dan Termuda New York
5 November 2025
Zohran Mamdani menang dalam pemilihan wali kota New York. Ini menandai kariernya yang meroket dari seorang anggota legislatif negara bagian yang kurang dikenal menjadi salah satu figur Demokrat paling menonjol di Amerika Serikat.
Dengan kemenangan ini, Mamdani, seorang sosialis demokrat, mencatat sejarah sebagai wali kota muslim pertama di kota tersebut, yang juga berasal dari keturunan Asia Selatan dan lahir di Afrika. Ia juga akan menjadi wali kota termuda dalam lebih dari satu abad saat mulai menjabat pada 1 Januari 2026.
Segera setelah kemenangannya, Mamdani mengucapkan terima kasih kepada para pendukungnya dan berkata, "Kita telah menggulingkan dinasti politik.”
Mamdani mulai berbicara setelah sorak-sorai riuh dari kerumunan:
"New York, malam ini kalian telah memberikan mandat untuk perubahan. Mandat untuk jenis politik baru. Mandat untuk kota yang bisa kita tinggali. Dan mandat untuk pemerintahan yang benar-benar mewujudkannya.”
Mamdani juga mengucapkan terima kasih kepada para pemilik toko kelontong asal Yaman, sopir taksi asal Senegal, perawat asal Uzbekistan, juru masak dari Trinidad, dan para ibu asal Etiopia, sambil berkata, "Generasi baru warga New York menolak anggapan bahwa janji masa depan yang lebih baik hanyalah kenangan masa lalu. Kalian menunjukkan bahwa ketika politik berbicara kepada kalian tanpa merendahkan, kita bisa membuka era kepemimpinan baru.”
Selain berterima kasih kepada pendukungnya, Mamdani juga juga menyampaikan harapanya untuk Cuomo.
"Teman-teman, kita telah menggulingkan dinasti politik. Saya hanya berharap yang terbaik untuk Andrew Cuomo dalam kehidupan pribadinya, tapi biarlah malam ini menjadi terakhir kalinya saya menyebut namanya,” ujarnya.
Ia mengalahkan mantan gubernur dari Partai Demokrat Andrew Cuomo yang mencalonkan diri sebagai independen setelah kalah dalam pemilihan pendahuluan dari Mamdani. Cuomo juga didukung oleh Presiden Donald Trump. Dalam pidato kemenangannya, Mamdani juga melontarkan kritik kepada Presiden Donald Trump.
“Jika ada satu tempat yang bisa menunjukkan kepada bangsa yang dikhianati oleh Donald Trump bagaimana cara mengalahkannya, maka itu adalah kota tempat ia dilahirkan,” ujar Mamdani dalam pidato kemenangannya. “Di tengah gelapnya lanskap politik saat ini, New York akan menjadi cahaya penuntun.”
Kampanye Mamdani dan kemenangan selanjutnya mungkin memiliki implikasi nasional terkait arah Partai Demokrat.
Akui kekalahan, Cuomo tawarkan bantuan kepada Mamdani
Dalam pidato kekalahannya, Cuomo yang tampak tegar menyebut kampanyenya sebagai "tanda peringatan bahwa kita sedang menuju jalan yang berbahaya, sangat berbahaya” dan menekankan bahwa "hampir separuh penduduk New York tidak memilih agenda pemerintahan yang menjanjikan hal-hal yang kita tahu tidak bisa dipenuhi.”
Namun, ia menegur pendukungnya ketika mereka mulai bersorak saat nama Mamdani disebutkan.
"Tidak, itu tidak benar,” katanya, seraya menawarkan bantuan kepada wali kota terpilih dalam segala hal.
"Malam ini adalah malam mereka. Saat mereka memulai transisi pemerintahan, kita semua akan membantu sebisa mungkin karena kita membutuhkan pemerintahan New York berjalan. Kita ingin pemerintahan ini bekerja untuk semua warga New York karena kota kita adalah kota terbaik di dunia,” katanya.
Partisipasi pemilih di New York
Lebih dari 2 juta warga New York memberikan suara dalam pemilihan ini, jumlah partisipasi tertinggi dalam pemilihan wali kota selama lebih dari 50 tahun, menurut Komisi Pemilihan Kota. Dengan sekitar 90% suara yang telah dihitung, Mamdani memimpin dengan selisih sekitar 9% atas Cuomo.
Kemenangan tak terduga Mamdani memberikan keyakinan bagi kalangan Demokrat yang telah mendesak partai untuk mendukung kandidat progresif dan kiri daripada mendukung calon-calon sentris dalam upaya merebut kembali pemilih moderat yang telah meninggalkan partai.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Hani Anggraini